Minggu, 30 Maret 2025

Buka Bersama

Beberapa tahun kemarin tidak memaksakan diri untuk ikut kegiatan rutinan angkatan kami, karena masih di Tangerang, atau kalaupun sudah di rumah rasanya berat sekali untuk meminta izin memotong liburannya. Dan di tahun ini, rasanya tidak ada alasan untuk tidak ikut.
Sebelum memutuskan untuk menuliskan namaku di list grup Abc, aku melihat siapa saja yang ikut.
"Siap ga yaaa ketemu mereka..?" batinku. 
Sebenernya dengan teman yang lain, kami sudah bertemu di pernikahan Denis awal Februari kemarin. Tapi dengan dia, tidak. Sepertinya terakhir kita ketemu di Pernikahan ustadz Zulfa dan ustadzah Lisda.

"denn, idah belum siap ketemu diaa. Tapi pengen banget kumpul sama Abc." 
"iyaaa dah, faham. Niat idah na silaturahim sama Abc pokonamah." 

Okee. Bismillah

Jam set 2 Siang aku berangkat setelah briefing panitia dan memastikan mereka menghandle acara dengan baik, agak berat meninggalkan mereka. Tapi rindu ini juga perlu dituntaskan. Hahahaha.

Satu jam setengah perjalanan kulalui ditemani Kisah-kisah romantis peradaban Ustadz Salim A. Fillah. Masyaallahhhh luarbiasa.

Aku segera menuju rumah Dinan, salam berkali-kali tapi tidak kunjung dibuka juga pintunya, di miscall juga tidak diangkat. Tampaknya memang sedang istirahat. Ulan segera menyuruhku untuk menyusulnya ke Lokasi ketemu, Rumah Memei.

Satu hal yang kutekadkan dalam diri sebelum bertemu dia, adalah.. "Jangan sampai eyecontact"  Karena perasaan antara kami kurasa udah tuntas dan tak perlu diperbaharui lagi. Cerita kami pun kurasa tidak perlu ada lanjutannya lagi.

Walaupun awalnya sedikit kikuk, tapi bisa kok aku bersikap biasa saja, bercerita, canda tawa dan bercengkrama dengan bebas tanpa embel-embel pernah "suka". Ternyata kita bisa berteman seperti biasa.

Dan sejauh ini, aku tidak sedang menunggu ataupun berharap, pada dia atau selainnya. Jadi, pulang kembali setelah bertemu dengannya tanpa membawa kembali rasa yang pernah ada, adalah pertahanan yang luarbiasa.


Dinan dan ute datang terlambat ke rumah makan karena kehabisan bensin, kami makan bersama.
Setelah itu, kami saling bertukar cerita ditentukan spinner online untuk gilirannya. Anifa tentang pengabdiannya, Dinan tentang kesibukan dunia mengajarnya, Ute dengan Pengembaraan di Depok, Rima dengan dunia kerjanya, Memei dengan cerita semester akhirnya, Ulan dan Helmi tentang rencana hari bahagianya, Viras dengan rencana Pernikahan adiknya, Ihsan dengan Pengabdian dan rencana S2 nya, Irsyad dengan rencana kerja dan cerita moveonnya.. Dan aku dengan perjalanan menerima takdir kembali ke kampung halaman..

Entahlah kenapa aku seenjoy itu bercerita didepan mereka 😇 diberi semangat, dibersamai dan dikuatkan. Hal yang paling berharga setelah beberapa lama terasa sendirian.
Sehat-sehat yaaa kalian.
ABC_XXII.

Kukira setelah pertemuan itu rindunya bisa tuntas, ternyata semakin menjadi-jadi.  (konteksnya untuk semuanya yaaa, hehe)

Apalagi Icad belum bercerita semuanya.. begitupun aku.

Terimakasih teman-teman, walaupun temu kita hanya beberapa kali, tapi setiap pertemuannya selalu berharga.

Ditutup dengan lanjut cerita di rumah Dinan sampe jam setengah 3 pagi, Girls only. Tak lupa velocityyyy ehehehe.


Terimakasih Tasik, dan orang-orang yang ada didalamnya, dan cerita indah untuk setiap alurnya.

25 Maret 2025/25 Ramadhan 1446 H

Selasa, 07 November 2023

Tidak Berharap

Aksi Palestina
Monas, 5 November 2023

Padahal tadinya tidak apa-apa tidak bertemu.

Bahkan tidak terbersit sedikitpun kalau dia ada, tapi pas lihat status nya malah ngelunjak pengen ketemu.

Minggu, 30 April 2023

Menerka-nerka

Tadinya kukira, perjalanan kembali merantau akan akan mengurangi ruwetnya fikiran ini. 
Ya, Setelah kabar itu datang, waktu sebelum tidur beberapa hari terakhir kuhabiskan untuk memikirkan itu.
Awalnya aku berusaha untuk tidak mencari pembenaran, agar setidaknya aku bisa menerka-nerka bahwa kabar itu masih mungkin tak nyata. Walau pada akhirnya aku juga yang memvalidasinya.

Alasannya baik, atau bahkan mulia. Dia bukan orang biasa, untukku. Dia juga selalu menjadi dirinya sendiri. Dia selalu, hebat dan mengagumkan. Sampai, sejauh apapun aku pergi hatiku tetap berlabuh padanya. Ya, dia masih berada diurutan pertama. 

"dia ngerokok dah." aku kaget. Tak mampu berkata-kata. Bagi sebagian orang, ini merupakan hal yang wajar. Tapi, untuk dirinya sangatlah asing dan menyesakkan bagiku. 

Sebenarnya yang aku takutkan dari kabar ini, bukan bandelnya dia memilih jalan itu, walaupun maksudnya baik. Sangat baik.
Tapi, bersamaan dengan kabar itu aku menari nari bersama fikiran ku. 
"saat dia berubah, apa semua hal juga akan berubah?"

Dia bukan orang bodoh, yang dilakukannya tidak mungkin tanpa pertimbangan sebelumnya.
"Apakah rasa yang dia miliki juga akan berubah?"

Memang, sudah lama kita tak bertemu. Berjauhan. Tak bertukar kabar. Bahkan saat pertemuan terakhirpun kita bersepakat untuk tidak saling berharap. 

Walau pada akhirnya, aku kembali pada pengharapan yang tak kunjung usai. Seperti pada hari hari ini. 

"dia ga setertutup dulu, dah. Sama akhwat juga ga berjarak, chat juga biasa bales, dulu kan jaga jarak pisan." tambahnya. 
"wkwkwkw." jawabku pada sang informan. 

Aku harus apa, aku bukan siapa-siapa. 

(hari hari sebelumnya padahal baru mimpiin) 



Kamis, 08 September 2022

Kalah lagi

Awalnya atas dasar  merasa tak pantas bersanding denganmu, aku ingin merasa menang untuk tidak menghubungimu, tidak menyapamu, tidak berkabar padamu.

Namun aku sadar, sebelum aku melakukannya kamu sudah pergi lebih dulu. Tanpa menghubungiku, menyapaku bahkan mengucapkan selamat tinggal padaku.

Oke. Aku kalah lagi. 

Minggu, 15 Mei 2022

Terjeda sebentar

Pernikahan sesama Alumni di pesantren yang sama adalah momen Reuni tanpa wacana. Semua angkatan hadir tanpa harus dipaksa datang. Saling sapa antar teman, kakak kelas, adik kelas, ustadz ustdzah. Indah sekali bukan.

Pun dengan aku dan teman angkatanku yang sama-sama datang memenuhi undangan ustadz dan ustadzah terhebat kami. Yang nantinya akan menjadi pasangan Favorit, semoga.

Aku berangkat dari rumah satu hari sebelum hari H. Teman-temanku yangvlain juga. Bertemu kawan lama setelah sekian lama bergelut di dunia masing-masing adalah hal yang sangat luar biasa. Waktu yang panjangpun tak cukup untuk menceritakan siapa saja yang pernah ditemui, mimpi apa saja yang sudah dicapai, dan ceriya cerita lain yang memang tidak ada habisnya.

"Berangkat jam berapa kita..?

" kata Ikhwan mau liat akad apa nggak, kalau liat kita berangkat jam 6. Kalau nggak, berangkat jam 8."

"Jam 6 aja." dengan pertimbangan kebersamaan, cerita indah yang bakal dikenang, dannn hal hal indah lainnya. 

-------------------

Shubuh kami terbangun dan bersiap-siap. Mengantri mandi, menyetrika pakaian, menyiapkan sepatu, sarapan, melipat jas hujan dan melakukan kesibukan² lainnya.

Jam 6 lewat 15 kami berangkat. Ke tempat teman angkatan ikhwan kami berkumpul. Sesampainya disana. Belum ada kehidupan. Sepi.

"Nungguin si isaan lagi beli sarapan." kata salahsatu mereka yang masih mengenakan kaos. 

Lama menunggu dipinggir jalan, akhirnya kami yang sudah siap lahir batin memarkirkan motor ke dalam. Dengan perasaan campuraduk. Kesal. Greget. 

Aku memanfaatkan luang waktu itu untuk mengelap motor yang hari sebelumnya dipakai berpetualang sambil hujan²an ke rumah salahsatu teman kami yang tidak ikut. Kotor. 

Dia datang. Senyum dan menyapa kami. Ahahahaa.. Apakabar hatiku. Dia masuk dan keluar lagi. Menggelar karpet, sambil menyodorkan 2 bungkus kupat tahu dan teko berisi air. 

"sarapan dulu." katanya. 

Kenyang. Sebelum jam 6 kami sudah menyantap bubur ayam plus kerupuk. Milikku tak pakai kecap, tanpa aku berkata seperti itu rupanya sang tuan rumah sudah tau dan segera berpesan pada sang ibu sebelum berangkat untuk membeli bubur. " Punya idah gapake kecap ya bu." Itulah pertemanan kami. Dan aku sangat senang mendengarnya. 

"ayo sarapan dulu." lagi lagi. "Enak inimah kupat tahunya." katanya. Denis membuka satu bungkus kupat tahu. Makan, dengan ke gregetan yang sama seperti sebelumnya karena belum terlihat janji tentang jam enam itu. 

"Yaudah kita ke Dinak dulu aja yu."

----------------------

"Satu jam setengah sih kalo di google maps mah." Katanya. 

Akhirnya 5 Motor berangkat menuju tujuan. Kondangan. Aku mencoba curi-curi pandang dari spion motor terdepan. Seseorang yang pernah menjadi tokoh pada buku diary ku beberapa tahun lalu. Seseorang yang sempat terlupakan karena beberapa kesibukan. Seseorang yang dikira sudah menjadi masa lalu. 

Kecepatan tinggi dan kelihaian dua motor pertama membuatku beberapa kali tertinggal, namun perjalanan yang indah dan menyejukan tidak mengurangi kehangatan pertemanan angkatan. Walaupun berkali-kali mengumpat kesal juga, karena sudah tak sanggup lagi salip menyalip dijalan kecil dengan tikungan² tajam. Namun lagi-lagi terobati dengan beberapa kenangan yang dilalui. Tentang alur yang hampir sama, perjalanan yang sama, tujuan yang sama dan subjek yang sama. 

Senyum sendiri, bercerita dalam hati sambil melewati jalan yang tak asing dan suasana yang membuat diri tak berhenti nostalgia kembali ke masa itu. Sambil sesekali melihatnya dari kaca spionnya saat aku dan kendaraan yang kukendarai mampu mendekatinya. Sisanya tertinggal lagi dan pasrah dengan tikungan dan lubang-lubang yang berserakan. 

"Kayanya harus berhenti dulu deh." Kataku pada teman yang duduk dibelakangku. Tanganku kaku, sakit sekali. Mungkin karena sudah lama tidak motoran sejauh dan seekstrim itu. Aku meremas² tanganku. Berbeda dengan dua motor depan yang sudah jauh meninggalkan, Dua motor dibelakang ikut berhenti. 

"Gapapa duluan aja." Kataku dan mereka tetap menungguku sampai aku benar-benar merasa baikan. Kekhawatiran mulai muncul bukan karena tidak hafal jalan pulang. Tetapi, karena kondisi badan yang mulai tidak enak dan kebersamaan yang gak bakal ada lagi karena ikhwan bakalan melanjutkan perjalanan untuk liburan. 

"Kita harus pulang." Tolak kami saat diajak ikut camp bersamaa. 

--------------------

Tikungan kanan menanjak menjadi tikungan terakhir kami sebelum benar-benar samlai ke tempat tujuan. Janur kuning bertuliskan nama kedua mempelai memperjelas bahwa kita tidak salah alamat. Warung kecil di tanjakan menjadi tempat kami beristirahat. 

"Mau langsung kesana..?" 

Tapi salahsatu teman kami malah menangis. Bagaimana tidak, perjalanan panjang dengan tikungan-tanjakan dan salip-menyalip yang cukup mendebarkanku, begitupun dengan dia. Perjalanan penuh dengan kepasrahan mengenai amarah, kesal, nyawa dan air mata. Hanya karena pukul enam yang dijanjikan terlaksana dipukul delapan. Ya, karena keterlambatan kecepatan tinggi menjadi solusi agar segera sampai pada tujuan. 

"Nyawa loh dah taruhannya." aku hanya tersenyum. Lalu mencoba menenangkannya sambil memeluknya. 

Trek. Mata kami bertemu. Mataku dan matanya. Beberapa detik yang sangat dalam. Aku segera memalingkan pandang. Ahh heyyy. Oke. 

---------------------

"Kita nunggu dua jam tapi malah ditinggalin di hajatan orang."

Masih dengan kekesalan yang sama. Setelah 3 motor itu pergi tanpa berpamitan. Sebenarnya bukan hal yang baru untuk kami. Dibanding angkatan lain, angkatan kami tertinggal jauh dalam hal perhatian, rasa peduli, kepekaan. Entah sengaja atau memang mengalir saja adanya. Tapi memang nyata. 😂

Namun tidak dengan hari itu. Mereka ada. Dia ada. 

"Pamit yaaa.."

-------------

Dan tentang perasaan  yang ada. 

Ternyata, bukan hilang bukan selesai. Hanya terjeda sebentar. 


Cerita Cikatomas 7 Mei 2022 


-Pamulang, 16 Mei 2022