Senin, 29 Juli 2019

Rindu pulang

Dalam hatiku sungguh ingin kembali
Dalam kisah yang akan selalu terkenang dihati
Canda tawa yang seiring menemani
Dalam ruang hampa yang terterangi oleh api

Namun kini dimana canda tawa itu
Semua terjadi seperti angin yang berlalu
Berhembus santai dan cepat dengan lugu
Tanpa ada rasa sepi yang membelenggu

Aku disini setia menunggu yang takkan ada
Menyesal akan semua yang telah lama
Membuka halaman baru dan terus bertanya
Kapan semua kembali seperti saat disana


Karya : ahmad fajar cici mulyana

Kamis, 25 Juli 2019

Kembali

Aku sadar bahwa aku harus benar-benar menerima dan mengikhlaskan.
Rasanya tak bisa jika aku harus terus menyimpan rasa untuk 5 tahun bahkan 6 tahun kedepan ..
Bukan karena tak mampu mempertahankan cinta..
Aku hanya malu, mempertahankan yang belum pasti. Jelas itu sangat belum pasti. Apalagi jika hanya membuatku lupa pada-Nya.


######

Kau genggam erat tanganku. Malu-malu. Baru saja terlaksana akad pernikahan. Bagaimana aku percaya , karena sebelumnya kita sudah menentukan pilihan yang cukup sulit untuk mendamaikan rasa. Mengembalikan seperti semula. Kau memilih untuk melanjutkan study di pondok pesantren. Dalam jangka waktu yang cukup panjang, padahal  sudah beberapa  kali aku meyakinkanmu bahwa pilihan itu akan sangat sulit, terkhusus bagiku. Aku bukan memilih melanjutkan kuliah, tapi kamu yang memilih, dan aku mengikuti saja. Karena saat aku ditawarkan untuk menikah dengan lelaki yang jelas bukan kamu, aku benar2 enggan.  Hanya ingin kamu. Tapi semuanya terlambatkan ? Yaa kamu sudah menentukan jalanmu. Tanpa peduli hatiku ? Salahkah jika aku berbicara seperti itu? 
Tapi di hari itu........ 

Kau memandangku dari jauh. Pandangan mesra, sangat. Kau tersenyum . Aku ingin segera mengabarkan sahabatku bahwa kau telah menjadi milikku, dalam ikatan yang sah. 
Sederhana acaranya. Aku sangat bahagia. Seperti menemukan lagi sesuatu yang paling ku sayang yang telah lama hilang. Kau masih memandangku, dengan sedikit malu aku membalas tatapan mu, kau tersenyum lagi. 


Aku masih belum percaya dengan semua itu. 
'Apakah aku sedang bermimpi..?' 
Tak ada yang menjawab. Aku berfikir kerasssss. Karena aku ingat beberapa hari yang lalu, kita chatting  bahwa kamu sudah di pesantren barumu dan kamu sedang izin kala itu. Ke warnet . Kamu juga sedikit bercerita tentang itu. Pas jam set 12 kamu pun pamit, untuk segera pulang ke pesantren lagi agar tidak telat shalat dzuhur.katamu. 



######

Benar saja. Aku terbangun dari tidurku.
Untuk yang ke berapa kalinya.. Yaa memimpikanmu bukan hal yang langka . terbilang cukup sering.
Tapi tiap Aku terbangun, selalu kaget...
Segera ku sadarkan diriku bahwa itu hanya sekedar mimpi..
Ku yakinkan diriku bahwa itu semua tak nyata.. Kau tidak membatalkan pilihanmu. Kau berada di pondok pesantren. Kau telah pergi. Dan kembalinya engkau , tidak dapat kupastikan.
Hanya bunga tidur.. Aku takut diriku kalah.. Tapi syukurlah, aku mampu sadar.
Aku hanya tersenyum.
Mimpi indahkah ini?


Aku tidur lagi..


######

Aku akan pergi mengantarkan kawanku, dinan rita ima ... tapi tak ada kendaraan yang bisa ku pakai, hanya mobil milik kak Alya. Beliau sedang melanjutkan study di turkey dan menitipkan mobilnya padaku. 
Akhirnya, kami pergi dengan itu. Di supiri oleh melisa. Tetanggaku. Tapi ikut, hanya sebentar. 

Aku meminta izin untuk pergi ke jakarta, bersama ima, zidan, tania, nopi ,kamu dan entah siapa lagi. 
Tadinya aku akan pergi dengan sepeda motor. Tapi ada sesuatu yang membuat ku malah tak jadi pergi. Dan aku lupa apa itu.


Aku kembali lagi ke rumah. 
Membantu ngpak makanan di pabrik , keripik kentang dan cilok. Tapi aku gatau 
Milik siapa pabrik itu. 


Ada sesuatu yang jatuh. Aku akan mengambilnya. Saat ku melihat ke depan rumah tetanggaku, mang anda. 
Kau ada disana. Sedang apa ? Ku yakinkan kembali. Ia benar. Kau disana. Aku melihatmu, tapi tidak denganmu. 
Aku melanjutkan mencari saledri. 


Ada pesan masuk. Darimu. Kita chat banyak, aku mengarahkan pandangan pada dirimu. Jarak kita tidak dekat, tidak juga terlalu jauh.kau mengirimkan fotoku. Ternyata dari tadi kau memperhatikanku.
Kau tersenyum lagi. Dari jauh. Aku membalas senyummu.
"Ini bukan mimpikan ?" tanyaku di chat. 
"Bukan, " katamu. Kamu menceritakan tentang perjalanan menuju ikatan halal tersebut, dengan sangat yakin. Ya kita sudah menikah. "Aku sudah tidak mondok lagi." katamu. Kamu terus bercerita hingga aku benar2 percaya.


Masih dengan jarak yang sama, ah kala itu aku masih sangat bahagia. Percaya tak percaya.  Aku ingin bilang bahwa aku sangat merindukanmu selama kamu di pesantren kemarin. Aku ingin bertanya , kalau sudah menikah tidak apa kan kalau aku merindukanmu. Tidak salah kan? 

"Am I wrong if I Miss you..?" tulisku untukmu . Di pesan, entah apa, tapi kurasa bukan whatsapp. 
Aku memikirkan kata tersebut.. 
Am I wrong if I Miss you ? 
Apakah aku salah jika aku merindukanmu ?
Untuk suami istri , itu tidak salah. Bisa jadi ibadah. Ya kamu sudah resmi menjadi suamiku.
Belum sempat kamu membalas. 


######



Aku terbangun lagi , aku tersenyum lagi. Ternyata aku memimpikan mu untuk yang kedua kalinya. Di malam yang sama.
Segera ku ambil gadget milikku, dan kutulis semuanya. Seingatku saja. 

Sekarang aku sadar bahwa yang kualami barusan benar2 mimpi. Sekedar mimpi. Sekuat apapun kau meyakinkanku . 
Semoga kau baik-baik saja , disana. 
Aku mau shalat dulu, aku ingin mengadu, bahwa nyatanya aku rindu. 
Maaf . aku rindu kamu.lagi.

Jum'at, 26 Juli 2019.
Tahajud.
Istikharah

Selasa, 23 Juli 2019

My Brothers


Hari ini, senin 2 july 2018
Tentang perasaan.
Masih benar- jelas terekam saat aku mengadukan segala masalahku padamu, tak ada seorangpun yg ku beri tau tentang hal itu. Kecuali dirimu. Aku menangis, merasa bahwa hidupku memang tak berarti lagi, tak berguna, sampai aku berfikir untuk mengakhiri.
Saat itu, saat semua orang seperti asing bagiku, saat semua orang menutup telinganya untukku, saat semua orang mengalihkan pandangnya dariku, kau datang...
Kau datang sebagai embun yang menyejukan padang gersang..
Laksana pelita dimalam gelap gulita..
Kau yang selalu menghargaiku dengan sabar mendengarkanku.. Walau tak semua masalah kau beri solusi, tapi
Setidaknya kau setia menerima keluh kesah ku.. Kau korbankan waktu tidurmu hanya untuk mendengarkan isak tangisku.. Setidaknya.. Kau menganggapku ada.
Waktu berlalu dan kau selalu seperti itu dengan ceritamu yang tak pernah membuatku ragu untuk memberi nilai 100.. Good story.
Dengan senyum manismu..
Kata penguat hidup ku..
Segala sesuatu tentangmu, aku katakan "kamu itu unik" dan apa yang aku dapatkan darimu adalah hal paling indah untukku, dan aku merasa nyaman.
Kau juga tak pernah sungkan memberiku bantuan2.. Dalam segala hal.. Sampai kau rela diam menunggu dari ashar sampe isya.. Hanya untukku. Ya bukan yang lain. "bilangin ka bu dokterna abi heula, karunya aa ngantosan."
Kamu tau pada saat itu aku bnr2 bahagia.
Kau langsung tercatat sebagai lelaki ketiga yang paling hebat dalam hidupku.
Saat aku bnr2 pusing dlm mnyelesaikan tugas makalahku kau datang.. Membantuku.
Dan aku bahagia.
Hingga pada suatu hari, aku benar2 takut kehilanganmu di suatu hari. Dgn ragu kuputuskan untuk pergi meninggalkanmu. Agar saat kau benar2 pergi aku tak terlalu merasa kehilanganmu. Agar saat kau benar2 harus menempuh hidupmu yang baru, aku tak terlalu merasa kehilangan mu. Ya , agar aku terbiasa dengan itu.
Tapi tingkahmu membuat aku bertahan untuk menjadikanmu sebagai orang hebat.. Orang spesial mungkin.
Semua terus berlalu dengan dirimu yang seperti itu. Dan aku bahagia mengenalmu. Menjadi orang yang dekat denganmu.
Hingga sampailah pada saat perpisahan itu.. Saat aku benar2 akan kehilangan jarak denganmu. Ya kau akan pergi. Sedangkan aku tetap disuatu tempat yg kita tmpati 3 taun lamanya dgn bersama.
Sungguh itulah perpisahan tersulit bagiku, dimana aku akan kehilangan orang2 yang sangat berpengaruh bagi hidupku. Aku akan berpisah dengan tmn2ku.. Juga denganmu.
Kita berfoto bersama, dan berpisah.
Tapi saat aku pergi meninggalkanmu yg masih ingin disana, aku merasa ingin kembali. Masih banyak hal yang ingin ku katakan, karena aku sadar apakah kita bisa berjumpa lagi atau tidak.
Dan aku yg telah dalam perjalanan pulang memutuskan untuk kembali. Agar esoknya masih bisa berkata2 dgnmu atau sekedar melihat senyummu.
Pagi buta aku mencari suatu hal.. Yang akan kupersembahkan untukmu. Aku sadar bahwa kita akan berjauhan.. Aku inhin memberimu sesuatu agar dengN kau melihatnya, kau akan mengingatku. Mungkin.. Meski memang tak terlalu berharga mungkin.
Pagi itu kita ber3 berkumpul.. Ah sungguh begitu sedih kala itu.. Berat.. Aku tak tau kapan lagi kita berjumpa.. Aku tak tau adakah waktu untuk itu. Aku tak tau..
Saat itu merupakan salahsatu hal terberat dalam hidupku.
"idah minta maaf ya"

29 oktober. Haturnuhun sadayana
















Kehadiranmu




Abis nonton video khitobah.
Taukah kamu, bahwa pada kala itu aku berharap engkau hadir dan melihat penampilan terbaikku. Dari jauh hari aku siapkan agar aku bisa memberikan yang luar biasa. Karena kamu adalah objek dari semuanya, tentang khutbah itu juga perasaan.
Dengan khutbah itu ku selipkan pesan-pesan tersimpan, aku berharap kau dapat sesuatu yang tak rumit namun pasti, aku ingin kau mengerti.

Kegalauan itu bermula saat maghrib itu, entah kenapa aku benar2 ingin menemui. Tapi kau tak kunjung hadir.
Sang Acuy berkata bahwa kau pergi dalam waktu yang cukup lama. Aku tak mengerti.


Aku masih menunggu, berharap kamu ada.
Gladi khitobah pertama, kau tak hadir. Esoknya...
Gladi kedua, kau tak juga hadir. Aku ingin tau apa yang terjadi , tapi aku siapanya kamu?  Dan akhirnya... "Tadi, isan gak bakal ikut khitobah ?" aku memberikan diri bertanya pada sang ustadz .
"Nggak kayanya. Lagi tes buat kuliah" jawab ustadz zulfa.
"Gak bakal ngandani atuh stadz ?"
"Kuliah dulu katanya." asli nyesek. "Emang kenapa gitu..?" lanjutnya.
" gpapa." aku pura2 baik baik-baik saja. Aku tak perlu menceritakan apapun pada beliau. Jika ku ceritakan pun mungkin takkan merubah apapun kan?

Dan sejak itu, aku tak berharap kau datang, aku tak berharap kau hadir, tak berharap kau melihat penampilanku. Aku tak berharap apa2. Tepatnya, aku lupa. Memang bisa?  atau mungkin memaksa diri untuk melupakanmu.

Acara dimulai, teman-teman mu , temanku... Mereka menampilkan yang terbaik, seru. Tapi tak ada kamu.
Aku belum di panggil untuk maju kedepan, sesekali aku melihat keluar. Ternyata masih sedikit berharap ada yang hadir selain ratusan penonton yang telah ada.

Sore itu acara masih berlangsung, ikbal sang juara.. tampil. Luar buasaa. Setelah itu aku.
Aku harus melakukan yang terbaik. Meski tak ada kamu. Aku harus bisa. Kata orang aku juga luar biasa. Tapi menurutku tidak, tidak ada kamu.
Setelah tepuk tangan yang tertuju padaku mulai sayup, Muhas tampil... Syara tampil .. Tapi audience yang berada di belakang ku tetap meluncurkan pujian padaku. Tapi aku tak bahagia. Sama sekali. Acara ditutup. Akan dilanjut bada isya.

Aku pergi meninggalkan aula, menuju kamar. Tiba2 ima menyenggol badanku, mengatakan sesuatu.. Berkata bahwa kamu ada. Udah pulang dari Bandung. Ah dirimu,
kenapa gak dari tadi ?
Kenapa gak liat idah tampil?
Kenapa juga idah tampil nya sore ? Kenapa gak malem aja ?
Aku semakin kesal.
Kenapa kamu datang sore itu ?
Kenapa tak besok aja sekalian ?


Aku bingung dengan diriku, rasanya ingin tampil kedepan lagi, agar dilihat oleh mu ? Mungkin. Padahal orang bilang aku sudah menampilkan yang terbaik. Tapi kurasa tidak.
Malam hari. Kamu tampil. Bahagia bisa melihatmu, tapi tetap saja. Masih terasa sesak.

Saat pengumuman, aku ditaqdirkan menjadi yang terbaik. Dan harus kedepan. Tapi sayang, kau sudah pergi meninggalkan aula beberapa saat sebelum pengumuman berlangsung. Sempat berfikir bahwa kamu hanya pergi untuk sekedar ke kamar mandi , atau mengambil sesuatu... Atau apalah... Dan akan kembali.
Tapi sampai penghujung acara, aku yang selalu menunggumu tak mendapati apa yang kutunggu. Bahkan saat foto bersamapun.

Yasudah tak apa. Lupakan saja dan jangan tanyakan lagi tentang itu. Ini hanya sebatas curahatan cerewetku.

Aku baik baik saja,
Aku akan berusaha untuk baik-baik saja


Sabtu , 19 Mei 2018
Hujroh madinah.
Malam.


Cerita Hari Rabu


" Gimana nih ? Terusin gak?" Tanyaku pada syara dan Nida, yang kala itu tengah makan bersamaku sesuatu pagi.
"Udah ah, terusin aja. Lagian kan udah izin." Jawab syara sambil makan telur lauk pagi itu.
Sedikit deg-degan takut ustadz Nanang Marah seperti peristiwa beberapa bulan yang lalu , beliau tidak memasukkan siswi kelas 4 karena telat.
"Aisyah, kamu kenapa ikut2an telat? Bukannya udah berangkat dari tadi pagi?" Tanya Mailan di depan kelas. Aisyah hanya tersenyum. Kita yang di luar mencoba ngintip selama pelajaran berlangsung sampai setengah jam. Nelangsa memang. "Masukk..!" dengan suara tegasnya, kita masuk dalam rangka taat perintah sang guru. "Kenapa kalian telat?" suaranya keras, matanya melotot. "Harusnya ......... Blablabla"

"Ohok ohok.. " Suara batuk Nida yang sedari tadi khusyu makan menyadarkan bayangan hitam. Gelap. Masa itu.
 "Yuk ah ke kelas.." ajak ku.
"Entar dulu, kalo telor ini abis ." sela Syara sambil memegang sepotong telor goreng.
Nida sibuk mencari cangkir karena gak kuat pengen minum. Keselek.

"Nid, te.. Hayya.." ajakku. 'Lah ? Kenapa ustadz Nanang nya malah pergi ya?' tanyaku dalam hati. ' oh mungkin bukunya ketinggalan' kataku lagi, mencoba menenangkan hati.


Sesampainya di kelas yang hanya berjarak 15 meter dari kamar, aku Nida dan syara langsung menuju bangku kosong. "Eh kemana ustadz nanang nya?" tanya nida pada teman yang sedari tadi sudah standby di kelas, sambil grusak grusuk.
"Marah kali, soalnya gaada spidol." jawab Nada agak cuek. Nida sebagai sekretaris kelas bergegas pergi dengan aisyah untuk mengambil spidol, mungkin.
"Nad ? Emang tadi ustadz nanang nanyain spidol ya?" tanyaku. Nada melirik sambil mengangguk. Cukup kesal, masa gara2 spidol aja marah. Tiba tiba..

"Eh, jangan-jangan ustadz nanang marah karena kalian pada telat lho.." kata aisyah yang baru datang. Diikuti nida dibelakang nya dengan menenteng spidol snowman.
Ima , Rita, wulan serempak melirik aisyah.  "Oiya bisa jadi." cetus ima. "Cepet susul ke rumahnya."

Syara dan Mailan segera pergi meninggalkan kelas. Ramainya kelas menutupi kekhawatiranku, tapi hatiku makin cemas, terlebih aku adalah tokoh dalam cerita ini, ya aku yang telat di hari itu.

"Tuk, tuk , tuk.. " suara sepatu. Mataku segera menuju pintu, berharap Mailan syara segera kembali, huh ternyata teman laki2 ku. Sekelas. Aku kembali ke tempat duduk.
Waktu terasa lebih lama, datanglah syara dan Mailan . 'lah kok wajahnya pada luyu sih, jangan jangan...'

"Gimana mei..?" tanya nada. "Ustadznya marah, soalnya kita pada telat." syara yang jawab. Mailan kelihatan ingin berbicara , "kenapa mei?" tanya aisyah, mengerti ekspresi Mailan. "Kata ustadz Nanang kita kaya yang gak butuh ilmu aja, terus langsung nutupin pintu." suara Mailan semakin lesu. "Jadi gimana?"
"Kasih tau ikhwan, abis itu kita ke rumahnya. Minta maaf."
Syara yang paling pemberani diantara kita langsung memberi tau ikhwan.(teman laki2)
"Syara sih telat." kata salah satu ikhwan.
"Lah, kan kamu juga telat." jawabnya.
"Kita cuma telat bentar, kamu malah makan dulu."

Akhirnya, pasukan kami yang terdiri dari beberapa siswi segera pergi meninggalkan kelas menuju rumah ustadz Nanang. Belum sampai tujuan, aku dan teman2 bertemu virus dan ismail . "Gak ada ustadz nya juga." kata viras dengan gugup karena bertemu segerombol siswi. "Ah masa? Di rumahnya gak ada?" Tanya Syara. Viras dan ismail saling lirik sambil angkat bahu dan tangan nya. "Gak tau, kayanya nggak."


"Assalamualaikum.." deg2an juga, aku ,Ima dan Nida mencoba salam di depan rumahnya. Sedangkan Nada ,syara dan teman2 yang lain mencari di kantor.
"Assalamualaikum.." salam ke dua. Masih tak ada jawaban. Cemas, takut beliau benar2 marah dan tak mau membimbing kami lagi.
"Assalamualaikum.." salam terakhir. Makin deg2an. Antara takut ada dan takut gak ada. Jika ada mungkin kami kena marah, kalau gak ada , ah sungguh malangnya nasib murid seperti kami yang masih minim ilmu ditambah kena marah sang ustadz belum sempat minta maaf.
"Krek.." pintu terbuka. deg... Aku menundukan kepala. Teman2 yang dari tadi sudah berada bersamaku pun tanpa komando dan isyarat sama. Menundukan kepala.


"Waalaikumussalam.." suara wanita. Reflek mata kami menuju sumber suara.
"Ustadz nya ada , ustadzah?" tanya aisyah . Ternyata ustadzah Lulu, istri ustadz Nanang.
"Nggak ada, bukannya lagi ngajar ?"
 aku dan teman-teman mencoba menceritakan yang sesungguhnya. Sedikit malu juga.
"Hmm gituuu.... Kalian sih ada2 aja.."
"Ih .. Kan gimana lagi ustadzah."
"Coba cari di kantor.. Di rumah mah gak ada dari tadi juga."
" gak ada ustadzah."



"Terus kita gimana nih.?"
"Yaa gimana lagi, diemin ajalah."
" kayanya ustadz nanang mau ngasih kejutan buat kita..sambil bawa kue."
Semua tertawa.. "Iya iya bisa jadi.. Terus sambil nyanyi happy birthday to you..." lanjut Nada, sambil menggoyangkan badannya. Kami makin tertawa.


"Hehhh, kalian kenapa malah ketawa sih..?" bentak syara yang sedari tadi memang tak ikut gabung. Tawapun terhenti. Hening.
"Kalian mikir gak sih..? Ustadz Nanang tuh guru, ustadz, doanya mustajab." syara marah. Kami tertunduk. "Kalian kaya yang gak punya salah aja." syara benar, kami semakin diam. Apa yang di katakannya emang betul, sangat. "Gimana coba kalo ustadz doain kita yang nggak2."
"Jangan suudzon lah.."
" Bukannya suudzon, tapi orang yang sakit hati itu biasanya susah mengontrol dirinya. Ingat, menumbuhkan kepercayaan tak semudah meruntuhkannya."


Semua terdiam. Termasuk aku. Aku yak tau apa yang ada dalam fikiran teman2ku, entah rasa sesal atau hanya menghargai yang berbicara. Yang jelas aku bertekad untuk meminta maaf lagi dan tidak pernah mengulanginya lagi. Begitupun mereka,mungkin.




Kejadian ini berlangsung pada hari rabu tgl 2 maret 2016.
Cerita ini ditulis di buku pada tanggal 3-4 Maret 2016. Pas waktu aku kelas X aliyah.
Kurang lebih ceritanya seperti itu, aku hanya menyalin dari buku. Dan ceritanya sudah agak lupa.


Terimakasih Ustadz engkau masih bersedia mengajar dan membimbing kami sampai kami lulus.
Semoga Allah senantiasa memberimu kesehatan dan keberkahan hidup.
Semoga Allah membalas semua kebaikanmu.
"جزىك الله خيرا كثيرا... جزىك الله أحسن الجزى"
Ustadz Nanang Iskandar. Almukarrom.

Senin, 08 Juli 2019

Gone

Untuk hari ini, dan empat tahun kedepan.
Atau bahkan selamanya.. 
Aku ikhlas,, 
Tenang saja , kita masih berteman. 

Rajadesa, 8 juli 2019
Army.

Senin, 10 Juni 2019

SEMU (Bandung 1)

Rajadesa, 11 juni 2019
Jam 00.53

Aku yang sedari kemarin tak berhenti memikirkannya akhirnya harus benar-benar menyadarkan diriku sendiri, bahwa aku harus berhenti menjadi aku yang sekarang.
Aku harus bangun, dan melihat kenyataan.
Aku harus bangkit dan sadar akan tujuan.

Ini bukan yang pertama kalinya, aku sudah melalui beberapa episode yang hampir sama. Tentang nya.

Tapi karena kejadian kemarin (9 juni 2019) yang membuat diriku benar-benar tak mampu melepas rindu ku padanya, tak kuasa mengalihkan pikiranku darinya, dan dari kejadian malam itu.

Malam itu 8 juni 2019 , aku yang cukup merindukannya memberanikan diri untuk menanyakan kabarnya.
Sakit puguh dah.. Katanya.
Seperti biasa kulontarkan perhatian-perhatian kecil untuknya. Endingnya malam itu dia mengajakku untuk ikut ke bandung bersamanya.

Aku sangat menginginkan tuk Penuhi ajakannya, sebenarnya bukan karena acara yang ada, tapi mungkin aku hanya ingin membersamainya.
Awalnya aku pesimis, tak diberi izin. Tapi akhirnya abi mengizinkan ku pergi.


Sebenarnya cukup berat, aku merasa mual dan pusing. Tapi entah apa yang membuatku benar-benar ingin Pergi.
Akupun pergi ke tasik dengan kendaraan umum, benar saja di perjalanan benar-benar macet, bis pun sangat penuh.
Aku berdiri di sepanjang perjalanan, biasanya aku kuat melakukannya  tapi untuk hari itu aku benar-benar pusing  membuatku ragu untuk melanjutkan atau tidak.

Akhirnya aku sampai di rumah dinan, temanku. Kepalaku sungguh berat, ku rebahkan badan ku di kursi tamu. Kala itu aku ragu,
Kalau aku melanjutkan perjalanan, aku takut malah merepotkan yang lain, sangat sakit kepalaku.
Tapi kalau aku tidak melanjutkan, aku akan ditertawakan keluargaku, kasian juga sama denis yang udah menunggumu, juga teman2 yang lain yang ku ajak join hari itu.

Tetiba dia yang mengajakku pergi , bilang bahwa dia tak diberi izin ayahnya.
Keputusan yang cukup sulit. Dan menguatkan aku untuk tidak pergi.
Namun aku tak mampu seperti itu, aku memaksanya untuk tetap pergi.
Tak lama
Kabar baik datang, dia diizknkan.


Aku dan teman2 ku segera pergi ke stasiun. Karena kami memutuskan pergi dengan jasa kereta . kebetulan sedang dalam promo 1000 rupiah, dan kami tidak pernah berfikir bahwa hari itu masih suasana lebaran.. Kami tak menyadarinya.
Benar. Antrian sangat panjang.
Dia sebagai lelaki mempersilahkan 3 perempuan teman di masa sma nya duduk menunggu di sebuah mesjid, termasuk aku.

Sempat pesimis, karena antrian yang sangat panjang, tapi dia menunggu keputusan sisa kuota kereta pada jam 14.00

"Dah cari opsi lain bilih teu kabagean , atau bade lost wae ?" tanyanya.
"Uih wae ka ciamis " kataku. Ah kenapa aku bilang seperti itu.
"Nya uhun atuh mnding uih wae"
"Ah cape ketang uih deui mah. Jaba isin kunu fi bumi."
Dia mengabari ku , bahwa masih ada kuota 300 lagi, untuk pemberangkatan jam 17.00.
"Kabagean teu nya , mudah2an kabagean." harapnya.
"Muhun amiin." dengan replek aku melanjutkan pesanku. "Mun teu kabagean tanggungjawab pokonamah anteurkn idah uih.'
"Gass.." jawabnya.
Ah percaya tidak percaya... Aku hanya bahagia.



Cukup lama. Hingga akhirnya dia menelpon ku untuk menggantikannya menunggu antrian. "Bade nyandak heula barang2" katanya. Optimis .
Aku beranjak ke stasiun yang dekat dari tempat peristirahatanku,mesjid.



Panas. Terik. Ditambah manusia manusia senasib denganku yang sedang berjuang demi tiket 1000.
Dia memberi isyarat dengan melambaikan tangan. Ia menyuruhku untuk mengganti kan posisinya.
"Dah Bade uih heula nya, nyandak barang" katanya sambil menyerahkan kertas.
Ternyata memang cukup melelahkan. Jongkok. Berdiri.jongkok lagi. Berdiri lagi.
Cukup lama tapi aku hanya melangkah satu atau dua kali per lima belas menit.


"Ahhh, moal kebagian.. Tiket na 100 deui." kata orang2 yang ada di depanku.
Aku segera mengabari nya.
"Asli ?" tanyanya. "Ieu tos diangkot.bade kadinya."
Banyak dari mereka2 yang putus asa meninggalkan barisan antrian.
Baik yang didepan atau belakang.
Aku ? Masih penasaran.
"50 lagi" kata orang depan .
Seperti tadi aku langsung mengabari nya.
50 tiket. Tidak mungkin.
"Sudah inimah. Antosan. Isan kadinya." katanya.


Bingung. Sempat berfikir untuk pindah alat transportasi. Bis misalnya. Tapi masih suasana lebaran. Macet total. Ah tak terbayang rasanya.
Kita memutuskan untuk kembali ke mesjid. Shalat ashar.

"Kamana deui ?
"Dukaa 😅"
"Si wulan bisi mau brng sama k aris?"
"Mau nginep di dinan wulan mah"
"Ouuh Bade ka dinan deui ?Ari idah srng nida ?"
"Nida sigana uhun..Idah duka. Bingung keneh 😅"
" Bade uwih deui ?"
"Dipiwarang namah.. Da enjing ka ondangan 😬. Tapi tt purun"
"Ouh muhun...bde d anteurkeun ?😄😄🤣"
 bingung harus jawab apa
"😅😅😅😅😅 , siga nu uhun." kataku.
Kalau saja aku berani aku akan  langsung mengiya kan saja. Tadinya aku khawatir dia malah mundur lagi dari tawarannya.
"Bisa. Ngan moal nepi rumah." katanya.
Ah rasanya aku ingin diam saja dalam rasa itu. Rasa yang cukup unik. Dan aku suka.
"Di triplekkan nya siga ust dikdik us via." candaku.
"Ngan kumaha nya.. 😂🤣" katanya. Mungkin diapun ragu.
Yasudah . aku tak ingin terlihat sangat menginginkan diantar oleh nya. Kalem dah. Kalem. Kataku.
"Kela ngemutan deui... Sugan si aa kersaeun ngjemput.. Da kana mobil mah maceeeeeetttt jaba pinuh.. Tadige tatih sajajalan" walaupun dalam hatiku aku sangat berharap dengan nya.



"Nya sok , Duh karunya Turut berduka cita 😄😄  Isan bde uwih deui ka bumi."
Ku lihat dirinya berangkat dari mesjid. Sesak. Rasanya belum ingin berpisah.
"😌😌😌😌😌Teuh da , Mangga ketang 😅" tapi yasudahlah..
Lagian mesjid kala itu penuh oleh orang2 yang gagal mendapat tiket.
" Teu aya tempat ngiyuhan , Masjid pinuh😄"😄
"Baso heula ath .. "
"Isan bade naek angkot . Nuju jalan knh Pami bade naek angkot jalan heula ka alun2 ngke aya 04 ."
"Bilih bde sareng, hayu. Isan nungguan di tukang baso🤭🤭😄"
Pesan darinya , berturut-turut. Bukannya tak mau memenuhi ajakan. Ah rasanya sangat malas untuk beranjak pergi meninggalkan masjid tsb.


Setelah cukup tenang, aku dan kedua teman ku segera pergi.
Bakso. Tujuan kita kala itu. Sepertinya pas untuk suasana seperti itu. Sambel yang banyak.
Bakso makanan segala cuaca. Kita berjalan mencari bakso terdekat. Karena bagi kami bertiga bakso itu tak perlu enak. Sudah ada judul bakso nya pun kami puas. Oke, sudah terlihat. Bakso gejrot.

Kamipun berbincang-bincang , hangat . dan aku bahagia.

Tiba-tiba ... Pesan whatsapp masuk.
" Kumaha aa teh ?" tanyanya . sebenarnya aku sudah punya jawaban sedari tadi. Jauh sebelum dia menyuruhku tuk memastikannya.  Aku hanya ragu saja untuk pulang dengannya. Ragu. Bukan tak mau.
"Teu aya sim na cnah, D razia. Dipaksa alimeun"
" Kumaha ath,?" tanyanya lagi.
"Entahlah" jawabku.
" Hyngna kumaha?" tanyanya kembali. Satu menit aku berfikir. Membiarkan pertanyaan itu. Mencari jawaban yang tepat. Inginnya aku berkata , hayu mau nganterin mah. Tapi aku belum berani.


" Kaberatan teu lmn di anteurkeun ? Mung moal nepi rumah" dia bertanya lagi. Akupun tersenyum. Ini yang ku tunggu..
Ah bodohnya aku kala itu, aku tak berfikir bagaimana cara aku melupakan kenangan itu. Aku tak berfikir bagaimana aku harus melewati hari tanpa melupakan masa itu. Ya masa bersamanya .
"Teu nanaon sih, ngan isan karunya."
"Alaaah..Tos biasa, Nganteur jauh lngsung pulang deui mah." katanya. Meyakinkan.


Aku tau kala itu dia sedang khilaf, dia mencintai wanita yang salah. Sampai berani melakukan hal tersebut. Maafkan aku.


Keputusan akhir, kita sepakat untuk pulang bersama. Setelah aku mencoba mengelak ajakannya lagi dengan cara "naek ojek online wae kitu nya.?"
Dia mempersilahkan, tapi ... "Mung gojek mah terbatas na jarak na. Ciawi ge teu dugi." katanya.
Akhirnya setelah perbincangan yang cukup .    aku pergi dengan ojek online menuju rancabango. Karena Dirinyapun merasa was-was.
"Dimana idah ngantosan na ?"
"Teu langkung, di tempat nu aman dan rawan pencurian." katanya. Dari sana aku faham, bahwa dirinya tak ingin ada yang tau tentang kejadian itu. Akupun sama.

Senin, 20 Mei 2019

Cerita si kuat

Jum'at, 17 Mei 2019


Pengawas dihari itu banyak yang gak hadir, Panitia pun mulai mengambil cuty, padahal belum ada arahan untuk itu. 😂

Tapi tidak dengan aku, aku harus tetap hadir, jika tidak lengkap sudah cacian untuk para pengabdi di taun ini setelah beberapa hari tidak ikut kuliah shubuh, ditambah tidak mampunya menjaga image di depan anak2 setelah naum shabah.
Ah kalau aku berani mengatur, sudah kuatur semuanya terserah mauku. Tapi apalah daya, aku bukan siapa siapa . Aku belum menjadi siapa-siapa.

Untuk sekedar mengingatkan agar mereka melihat kondisi anak binaan kamarnya pun aku belum bisa, Kalau pun aku terpaksa harus melakukannya itu hanya dengan sindiran tipis. Entah mereka sadar atau tidak.

Seperti biasa di hari itu, ku siapkan soal-soal untuk ujian di hari itu. Pengawas benar-benar  banyak yang absen, untuk masalah mengawasi anak2 ujian sebenarnya aku tidak terlalu tertarik. Kecuali kalau memang tak ada lagi yang mampu.

"Kelas VII A, kosong.. " ahh tidak tidak, kelas itu merupakan kelas yang paling di takuti, banyak dari kami yang tak mau masuk kesana, termasuk para pemburu bonus sekalipun.
Tapi karena benar-benar tak ada lagi nyawa disana aku langsung naik ke lantai 2.

" ustadzah, ngawas dimana..?" tanyaku pada ustadzah dilla, ketua Kesantrian Putri yang kebetulan jadwal ngawas.
"di kelas 9 didah," jawabnya.
"oohhh, di kelas 9 ya ustadzah, semangat ustadzah.. Olahraga" kataku. Memang kelas 9 terletak di lantai 3.. Cukup banyak anak tangga yang harus dilalui.
Lumayan menguras tenaga, sehingga saat sampai di kelas bukannya membagikan soal, malah nglap keringat yang gak berhenti keluar.

"Didah,  " panggil beliau..
"iya uss.."
"didah mau gaa kalo tukeran ngawas nya..?" tanya ya.
Aku yang sedang benar-benar badmood  malas bertemu anak2 kls 7 A yang super kepo dan nyebelin banget langsung girang.
"beneran ustadzah?"
"iya, tapi antum gapapa naik tangga lagi keatas? “
" gapapa ustadzah, " jawabku sambil senyum bahagia.
" eh ustadzah, tapi kelas 7 A mah anak2 nya nyebelin................... Blablabla" Aku ceritakan semuanya pada beliau. Takutnya kaget saat beliau masuk.
"ya gapapa didah, ana mnding ngadepin mereka daripada harus naik tangga lagi."

Map yang ku ambil langsung ku tukarkan dgn map beliau. Aku pun menuju kelas 9,kunaiki tangga demi tangga. Tapiiii....

Ahh ternyata aku masih belum dewasa, aku lebih memilih suasana kelas yang adem meski lumayan jauh. Padahal sebenarnya aku butuh mereka sebagai pendukung proses kedewasaanku.
Jelas disini terlihat siapa yang lebih kuat mental kedewasaanya  dan siapa yang hanya kuat fisiknya saja.





#ustadzahdilla
#9famunaskahf
#azamdkk
#pas

Miss

23 september 2018
Aku rindu lagi.. 

Entah dari hari apa.. Sudah cukup lama.
Yang ku lakukan hanya sekedar melihat whatsapp mu, melihat kapan terakhir kamu buka whatsapp..
Berharap ada kamu yang mengirim aku sapaan..
Dan aku tak pernah mndapatinya, untuk waktu yang cukup lama..
Aku rindu.
Kamu tau, disetiap aktifitas ku.. Di setiap kebahagiaan ku.. Ingin ku ceritakan semuanyaa padamu. Ingiiinnn..
Bukan yang lain..
Kamu tau, apa maksud dari semua status whatsapp ku? Yaa agar kau melihat nya..
Tapi di kesempatan yang cukup renggang.. Kau sangat jarang membuka status whatsapp ku.. Entah khusus aku saja, atau bagaimana.. Aku tak tau..
Kamu tau.. Apa maksud ku memiliki dua akun whatsapp? Agar aku bisa berbincang denganmu.. Tanpa kau tau bahwa itu adalah aku yang selalu merindukanmu.. Tanpa kau tau bahwa aku ingin sekali bercengkerama seperti dulu lagi..
Tapi kau benar2 pergi..
Dan sampailah di hari kemarin.. Saat aku berjalan mnuju tk.. Tanpa motor. Berharap kau hadir untuk sekedar menanyakan kabar.. Atau apalah.. Tapi tetap sama dengan hari sebelumnya.. Kau tak ada.. 
Ashar 20 agustus 2018..
Aku sudah tak berharap apapun.. Darimu. Mungkin.. 
Walau sebenarnyaa ada rasa ingin menyapamu.. 
Tapi aku kubur semua itu.. Aku terpaksa melakukannya.. Entah demi siapa.. Entah untuk siapa.. 
Entah karena apa.. 
16.23 aku mmbuka whatsaap.. 
Ada panggilan dari kak hadi.. Dan darimu.. 
Ada pesan darimu juga.. 
"Dah"
Kamu tau.. Bagaimana bahagiaku kala itu.. 🙁
Aku mmbalas.. 
Kumaha san.. 
Tapi sayang kau aktif 20 mnit yang lalu.. 
Akupun mencoba memanggilmu balik.. Tapi tak ada jawaban.. Hingga akhirnya ku putuskan untuk menarik pesan ku kembali.. 
Aku takut .. 
Aku mncoba mlihat whatsapp denis.. Knapa kau menghubungi.. Takut ada peeerlu.. 
Ternyata hanya padaku.. 
Aku takut.. 
Ternyata kau hanya mau mengambil helm ya.. 
Oiya.. Itu aja.. 
Tapi akuuu rinduuuu... 
Dan memutuskan untuk membalas pesanmu d malam itu.. 
Kau mmbalas seperti pada orang yang blom kau knal saja.. Tak kah kau mrasa getaran rindu dariku san... Tak apa.. Mungkin kau sudah lupa rasa itu.. Rasa yang pernah sama.. Yang pernah kita miliki bersama.. 
Dan kali ini.. Hanya aku saja kan? 
Ya tak apa.. 
San.. Aku sering cemburu.. Tapi kau tak perlu tau.. 
Malam itu aku mmbalas lagi.. Kau pun ada.. 
Hanya sekedar satu percakapan.. Tak lbih.. 
Aku terakhir balas.. Dan langsung mnutup hp.. Berharap kau mnanyakan kmana aku.. Knapa gak balas lagi.. Darimana saja.. 
Tapi.. Pas aku bangun pagi tadi.. Ternyata kau pun tak mmbalas lagi.. 
Yasudah.. 
Aku bukan prioritasmu lagi. 
Maafkan aku yang selalu merindukanmu.. 
Maafkannn
Maafkan aku yang velum bisa melupakan kenangan yang telah kita lalui.. 
Maafkan aku yang masih seperti dulu.. 
Aku rindui kamu, san.. 

Rindu abc

30 september
Ahad, 30 September 2018.
Ada satu masa dimana rindu tiba-tiba hinggap tanpa permisi, tanpa bertanya apakah aku mampu menerima kedatangannya dan membersamainya.
Ada satu waktu, dimana memori yang telah lama tersimpan tiba-tiba datang dan membayang.. Membuat si rindu makin nyaman berada dalam kehidupan . Tanpa memberi kepastian tentang waktu ia pulang.
Abc, 😭😭😭😭😭
I miss you all
Miss ppl

Berjarak

Aku hanya sedang berjarak
Untuk menyembunyikan kenangan yang masih tetap bertahan tanpa alasan.
Meski tak semuanya menghilang, setidaknya tak terlalu terbayang.

Kalimantan go


Di alabina..
 Kamis, 5 juli 2018
Aku sendiri, masih berfikir bagaimana caranya untuk hidup disini..
Beberapa saat lagi , mereka akan pergi.. Mereka yang selalu membuatku bahagia..
Mereka yang mengisi hari-hari ku dengan berbagai cerita..
Mereka yang dengan kepergiannya akan sangat kurindukan..
Aku kurang cerdas memanfaatkan 3 taun waktuku disini untuk lebih membahagiakan mereka...
Aku tak pintar mencari cara agar kalian puas berteman denganku..
Dan aku tak mampu lagi berbuat apa2 sehingga kalian benar-benar pergi..
Meninggalkan aku disini..
Ditempat kebersamaan kita terlahir..
Ditempat persahabatan kita terjalin..
Di tempat kepercayaan kita terbangun..

Aku masih akan disini.. Di tempat yang sama..
Disini.. Masih disini.. Untuk setaun kedepan.
Tapi aku tak baik-baik saja.. Karena di setaun kedepan tak ada lagi canda tawa kalian.. Cerita2 kalian... Tingkah lucu kalian.. Tangis kalian..
Yang akan sangat kurindukan..
Mereka pergi..
Meninggalkan aku yang sangat menyayanginya
Abc xxii khususna nu ka kalimantan

Piket sabtu


Piket sabtu, 29 september 2018.
Entah aku yang hanya menganggapnya asing, atau memang dia yang sudah benar2 berubah sehingga ia tampak jelas menjadi orang yang paling asing.
Kehidupan memang perlu berputar, agar aku sadar bahwa ia hanya makhluk sementara, ia hanya makhlukNYa, tak memiliki kepastian, tak mampu menentukan, tak tau masa depan.

Tatapan

20 september 2018
Entah untuk keberapa harinya aku menyimpan semuanya. Menjauh darinya..
Mencoba mencari kekuatan baru..
Agar aku tetap bertahan tanpa keberadaannya disisiku..
Dan di hari ini, aku yang selalu berusaha untuk bersembunyi darimu, berusaha agar hilang dari pandangmu.
Aku, bertemu dengan tatapmu..
Tatap tanpa senyum yang biasanya hadir di bibirmu..
Aku berusaha untuk menghindar, tapi tidak dengan diriku.
Aku mencoba untuk baik2 saja, tapi tidak dengan hatiku yang selalu merindu dan menyebut namamu.
Aku baik-baik saja, anggap saja begitu.


Aku dengan adik yang pulang dulu dari tk untuk mengambil stnk di ust lutfi.. Di mahad gak ketemu. Pas skb ketemu. Melihat matanya.. Mencoba berpaling, tapi nyatanya kmbali lagi.






Mimpi is

Jumat, 19 oktober 2018
4 : 27

Baru bangun tidur setelah tadi tidur lagi bada tahajud,
Dsana ada guruku yang sering bercanda, kawan mengajarku d tk, juga dia teman lelaki terbaikku.
Dsana kita berbincang2 tentang segala hal.
Tapi aku lebih diam, karena terlalu malu olehnya.
Tiba2 sang guru membicarakan tntg seorang wanita yang selalu mbuatku cemburu.
Dan si laki2 tertawa dgn bahagia, mndengarnya.
Meski aku bukan siapanya dia, setidaknya kita pernah memiliki rasa yang sama. Dan aku benar2 tak ingin kehilangan nya.
aku cemburu lagi.. Dgn spontan aku melirik kawan wanitaku, yang tau segala hal tentang perasaanku.
Tanpa ku sadar lelaki itupun memperhatikan kecemburuanku yang ku tampakkan pada kawan ku.
dia mendekatiku, dan sang guru tidur d tengah2. Kawanku entah kmana,
Dia tiba-tiba tidur dengan menjulurkan kakinya ke arahku. Kakinya ia simpan di atas kakiku, membuatku benar-benar merasa nyaman, dia tersenyum.. Seperti tau bahwa aku memang membutuhkan senyumnya, Ahh aku benar-benar bahagia. 😄
Tak lama tangannya menggenggam tangan ku dan tersenyum lagi.
Matanya memandang ku dengan lembut, tanpa mengalihkan perhatiannya,
Aku yang semula ragu untuk memandangnya menikmati semua itu.
Aku sungguh nyaman. Aku tak ingin kehilanganmu lagi,,
Sungguh..

Dan itu, mimpiku pagi ini..
Ustadz husna malik
Isnaennisa jamilah
M. Ihsan Mauludin




Rindu 25 ok 18



Aku rindu..
Tidak kah kau merasakan hal yang sama..
Banyak sekali yang ingin ku sampaikan padamu..
Tapi kau begitu acuh padaku..
Memang aku bukan siapanya kamu..
Yang jelas aku rindu.
Tak salahkan?
Tak kah kau ingin tau kemana tadi aku pergi?
Tak kah kau ingin tau apa saja yang membuatku bahagia di hari ini?
Tak kah kau ingin tau kenapa aku memposting kenangan itu?

🙄 🙄 🙄
Aku kehilanganmu
Aku tau kau ingin menuju lebih baik kan..
Ya mungkin itu jalanmu

Aku tak melarang..
Aku hanya rindu saja.
Dan tak perlu kau balas..
Aku akan belajar untuk menerima..
Aku rindu

Akreditasi dan kamu


Akreditasi dan kamu..
You are the one
Thank's.. Ishan






For your word, your smile, and your eye..
"mangga anu tepang taun tipayun" bari nyodorin martabak..
Dan your smile... Ah syukron.

Wasiat

Lagi ngawas kelas 6..
Pelajaran fisika.
Selasa 4 desember 2018
Kematian itu bisa datang kapan saja, tak pandang tua atau muda.. Tak lihat sakit atau sehat..
Kadang ada orang yang terlalu percaya diri untuk panjang umur, padahal ia tak tau sedikitpun kapan allah menentukan ajalnya.
Kapanpun itu, semua pasti berharap kembali kepadaNYa dalam keadaan bersih, suci, iman, dan hal2 baik lainnya. Atau sering di sebut husnul khotimah. Yaa semua ingin itu, tak terkecuali aku.
Sejak hari kemarin aku, memang selalu ingat tentang mati. Seperti sudah dekat. Aku merasakan sering ada getaran2 di tanganku.. Badanku yang selalu lelah.. Walaupun sebenarnya aku tak tau adakah hubungan antara apa yang ku rasakan  dengan kematian.
Aku ingin berakhir dengan baik. Karena aku benar2 takkan mampu jika harus masuk kedalam nerakaNYa.
Sebenarnya aku berharap seperti ini terus.. Maksudnya agar aku terus mengingat katian.. Agar aku merasa bahwa kematian sangat dekat.. Agar aku selalu melakukan yang terbaik..
Karena aku ingin selalu istiqomah di jalanNYa. Tidak malas2an dalam beramal, dalam berbuat baik, dalam berbakti, dalam memberikan manfaat terhadap orang lain.
Aku ingin jika ajal benar-benar datang aku sungguh minta maaf..

Notes From NI

Hari ke sekian pengabdian.
Percaya tak percaya, aku sedang berada di dalamnya. Dalam program bernama pengabdian.

Abc

Jum'at, 8 juni 2018
Hari ke 5 berpisah dengan ABC XXII .
Kamu tau kenapa aku terus memikirkanmu ?
Karena dulu , kau memberiku kenangan terlalu indah tanpa pernah berfikir kondisiku saat kau pergi.
Aku pernah berkata bahwa aku ingin kalian seperti sabelen, yang penuh dengan perhatian, kelembutan, dan rasa sayang.
Aku pernah memohon agar kalian seperti GK yang selalu menuruti kata wanita.. Mendahulukannya... Memberikan yang terbaik padanya..
Aku pernah memaksa agar kalian seperti mereka..
Tapi aku tak pernah mendapatkannya,
Tak pernah tau bahwa tuhan mengabulkan atau tidak tentang harapanku. 
Tapi, kenapa aku mesti rindu.. 
Rindu pada kalian .. 

Notes from pengabdian 🤗

Hari ke berapa ratus, di pengabdian.
Dulu sempat berfikir untuk menyempatkan menulis di Masa2 pengabdian,
Ingat, tapi selalu di entar-entar, sampe akhirnya lupa lagi apa yang mau di tulis.
Hari ini, senin 20 Mei 2019.
Setelah rapat PAS, PSB dan ifthar jama'i.
Bersama Kawan2 pengabdian di tambah ustadz dikdik, ust hadi dan ust zull.
Percaya gak percaya aku bisa bertahan sampai detik ini.
Sedih, senang, aku tak bisa prediksi rasa apa yang paling kuat yang sedang ku miliki.

Selasa, 19 Maret 2019

Ampera Dan Beasiswa

Cigalontang, 22 januar 2019
tempat itu tiba2 membuat kenangan masa lalu Hadir kembali Di kehidupanku..
Membangunkan rindu tuk lebih sering datang memenuhi fikir ku..
Aku rindu..
Saat kau datang Di tiap waktumu untuk sekedar menyapaku, menemani hari2ku..
"amperamah tempat buat ngasuh."
"keun atuh sugan we urang kaumuran tiasa ngasuh sareng ddieu"

kamu tau.. Akhir2 ini aku sudah mencoba sekuat kemampuanku untuk menghindar darimu, melupakan semua tentang u, atau bahkan menghapuskan apa yang telah ku percaya kan padamu... Tentang hatiku Dan hatimu...
Aku mampu.. Aku bisaa..
Aku kira akan terus seperti itu, bisa terbebas dari memikirkanmu,,, Bisa bersikap netral dihadapanmu, bisa melalui hari Tanpa mempedulikan keberadaanmu.. Tanpa menanyakan kabar tentangmu...
tapi nyatanya, baru beberapa hari aku memaksa diriku untuk seperti itu, semua seperti runtuh kembali.. Seperti semula... Atau bahkan lebih parah dari itu..
Semua itu terjadi hanya karena pertemuan denganmu, hanya karena magnet dari matamu,,,,
Aku rindu kembali..
Aku tak bisa membohongi diriku lagi,
Dan Di hari ini, aku dihadapkan pada latar tempat yang mengandung seribu rindu itu..
Bandung.. Dan ampera..
Saat sapaan Mu adalah santapan nikmat Di tiap pagiku.. Saat ucapanmu adalah kehangatan bagiku..
Aku hanya rindu..
Rindu ucapan manismu, janji sucimu..

Kamu tau, bahwa aku sangat menginginkanmu,
Aku ingin bersama u secepatnya..
Tapi aku tau keadaan u, aku tau mimpi2mu..
Dan aku tak tau apakah kamu masih memiliki rasa yang sama seperti saat Di bandung kala itu seperti saat percakapan tentang ampera waktu itu.. Aku tak tau..
Jika iya pun.. Rasanya cukup berat bagimu untuk menungguku selama 4 tahun..
Aku rindu.. Tapi aku tak bisa memaksamu
Aku rindu.. Tapi aku terlanjur memilih beasiswa itu

For you : Fathiyah almuna

Aku persembahkan tulisan ini untuk adik-adik ku yang duduk Di kelas IX.
Berbincang dengan kalian adalah sebuah kebahagiaan, aku nyaman melakukannya. Meski ku korban kan waktu makan malam ku.. Karena seringnya begitu.
Waktuku Berbincang panjang hanya Setelah shalat Maghrib, sisanya aku dengan hidup ku. Kalian dengan kehidupan kalian. Meski kita masih dalam satu naungan lembaga yang sama, shalat Di satu mesjid yang sama. Tapi begitu lah nyatanya. Kalian memiliki aktifitas masing2.
Bermula dari tugas ku sebagai guru bahasa kalian saat kalian masih lugu, saat kalian belum tau menau tentang sekolah ini, saat kalian baru meleepas seragam putih merah kalian.
Mungkin kala itu aku memang lebih pintar dari kalian, aku lebih tau bahasa2 asing yang sering Di ungkapkan kakak2 kelas kalian,aku lebih menguasainya dibanding kalian. Dan aku yang kalian jadi kan objek bertanya kalian.
Sehingga banyak kakak kelas kalian yang mempermasalahkan kedekatanku akan kalian, aku jawab saja kalau aku adalah guru bahasa kalian. Bukannya begitu?
Waktu berlalu, tibalah tugas baru saat aku harus meninggalkan kalian.
Aku dengan tugas ku Sebagai roisah sekaligus keamanan Dan kalian dengan guru bahasa baru kalian.
Sejak saat itu, aku hanya bisa melihat perkembangan bahasa kalian yang semakin membaik, kalian lebih ceria, jelas.. Guru baru kalian lebih professional..
Pernah aku ingin kembali, tapi tugas menuntut ku untuk tidak melakukan itu.
Kalian masih membersamaiku untuk bimbingan mengaji.. Meski hanya beberapa orang saja.
Tak ada yang menyuruhku untuk itu, aku hanya ingin kalian lebih baik saja. Semampuku.

Waktu berlalu. Tibalah saatnya aku tidak lagi berada Di barisan kalian, panggilanku pun tak sama lagi seperti hari2 yang lalu, dan sudah banyak yang berubah dari kalian.
Kalian tumbuh tinggi, dan cepat. Apa yang ku tau, kalian pun sudah tau.. Atau mungkin kalian lebih banyak mengetahui dari pada ku.
Hingga kala itu, Di ba'da maghrib. Seperti biasa kalian datangi aku yang sedang memegang QUR'AN Di depan mesjid. "ustadzah, mau qiro'ah" kata salahsatu dari kalian. Kalian berebut untuk menjadi yang pertama. Setelah kelar, kita mulai Berbincang tentang apapun, masaa masa masuk smp, pengalaman ku saat sd, cerita tentang adik2ku, kalian sangat ceria menanggapi cerita2 ku.
Sampai tiba pada saat aku bertanya pada kalian tentang hari2 yang akan kalian hadapi kedepannya. Aku tak pernah memaksa kalian untuk tetap belajar disini, aku tak ingin memberatkan kalian jika memang kalian tak mau disini. "Yang penting kalian lanjut belajar kalo bisa pesantren, syukur2 disini lagi ." kata ku.
Tapi nyatanyaa aku yang semula berprasangka bahwa kalian sudah bosan disini, ingin cepat keluar dari sini, itu salah.
Kalian ingin bertahan, dan aku bahagia sekaligus bangga. Serius.
Tapi ada hal yang membuat kalian ragu untuk bertahan, aku tau karena kalian tak sengaja berkata itu.
aku mendesak kalian untuk menyampaikannya. Tapi kalian tetap diam,, dalam rangka menjaga perasaan seorang aku yang belum bisa Memberikan apa2 untuk kalian.
Hingga akhirnya aku tau, alasan keraguan kalian untuk bertahan ada pada orang2 sekitar ku.
"pengen disini lagi, tapi udah gak kuat. Meski pun kita tau taun depan mah pasti bakal berubah lagi."
Orang lain takkan faham, tapi tidak dengan aku yang sudah lama kenal siapa kalian.
Banyak dari kalian yang gugur, dan alasan utama nya adalah itu, semuanya timbul dari orang2 yang berada Di sekitar ku. Jujur, aku sangat terpukul, sangat.
Bagaimana mungkin aku membiarkan kalian pergi karena kesalahan orang sekitar ku, padahal impian besar kalian adalah tetap disini.
Bagaimana mungkin aku membiarkan kalian mematahkan cita mulia kalian untuk bertahan, sementara diluar kalian belum tentu kuat.
Aku yang sedari dulu selalu ingin membahagiakan kalian, Memberikan yang terbaik untuk kalian,
Aku yang sedari dulu ingin kalian lebih pintar dariku, lebih faham dari pada aku.
Aku yang ingin senantiasa membuat kalian bahagia,
Aku yang inginkan kalian menggapai semua cita kalian, segala yang kalian impikan. Tanpa sedikit pun takut tersaingi.
Tapi nyatanya ada nya aku malah mengganggu kenyamanan kalian.
Mematahkan mimpi mulia kalian,,
Maaf kan aku yang tidak menyadari semua ini.
Maaf kan aku yang terlalu fokus akan ingin ku sampai lupa diriku juga yang melumpuhkannya.

"Tolong, bertahan lah..
Sebentar saja..
bertahan lah...
 untuk sementara waktu....
Semuanya akan berubah,
percaya padaku."
Dan aku sudah terlambat, kalian sudah menentukan pilihan kalian, aku yang tak mampu berkata apapun pada orang sekitarku. Aku tak mampu.
IMaafkan aku..
Fathiyah AlMuna.
K