Rajadesa, 11 juni 2019
Jam 00.53
Aku harus bangun, dan melihat kenyataan.
Aku harus bangkit dan sadar akan tujuan.
Ini bukan yang pertama kalinya, aku sudah melalui beberapa episode yang hampir sama. Tentang nya.
Tapi karena kejadian kemarin (9 juni 2019) yang membuat diriku benar-benar tak mampu melepas rindu ku padanya, tak kuasa mengalihkan pikiranku darinya, dan dari kejadian malam itu.
Malam itu 8 juni 2019 , aku yang cukup merindukannya memberanikan diri untuk menanyakan kabarnya.
Sakit puguh dah.. Katanya.
Seperti biasa kulontarkan perhatian-perhatian kecil untuknya. Endingnya malam itu dia mengajakku untuk ikut ke bandung bersamanya.
Aku sangat menginginkan tuk Penuhi ajakannya, sebenarnya bukan karena acara yang ada, tapi mungkin aku hanya ingin membersamainya.
Awalnya aku pesimis, tak diberi izin. Tapi akhirnya abi mengizinkan ku pergi.
Sebenarnya cukup berat, aku merasa mual dan pusing. Tapi entah apa yang membuatku benar-benar ingin Pergi.
Akupun pergi ke tasik dengan kendaraan umum, benar saja di perjalanan benar-benar macet, bis pun sangat penuh.
Aku berdiri di sepanjang perjalanan, biasanya aku kuat melakukannya tapi untuk hari itu aku benar-benar pusing membuatku ragu untuk melanjutkan atau tidak.
Akhirnya aku sampai di rumah dinan, temanku. Kepalaku sungguh berat, ku rebahkan badan ku di kursi tamu. Kala itu aku ragu,
Kalau aku melanjutkan perjalanan, aku takut malah merepotkan yang lain, sangat sakit kepalaku.
Tapi kalau aku tidak melanjutkan, aku akan ditertawakan keluargaku, kasian juga sama denis yang udah menunggumu, juga teman2 yang lain yang ku ajak join hari itu.
Tetiba dia yang mengajakku pergi , bilang bahwa dia tak diberi izin ayahnya.
Keputusan yang cukup sulit. Dan menguatkan aku untuk tidak pergi.
Namun aku tak mampu seperti itu, aku memaksanya untuk tetap pergi.
Tak lama
Kabar baik datang, dia diizknkan.
Aku dan teman2 ku segera pergi ke stasiun. Karena kami memutuskan pergi dengan jasa kereta . kebetulan sedang dalam promo 1000 rupiah, dan kami tidak pernah berfikir bahwa hari itu masih suasana lebaran.. Kami tak menyadarinya.
Benar. Antrian sangat panjang.
Dia sebagai lelaki mempersilahkan 3 perempuan teman di masa sma nya duduk menunggu di sebuah mesjid, termasuk aku.
Sempat pesimis, karena antrian yang sangat panjang, tapi dia menunggu keputusan sisa kuota kereta pada jam 14.00
"Dah cari opsi lain bilih teu kabagean , atau bade lost wae ?" tanyanya.
"Uih wae ka ciamis " kataku. Ah kenapa aku bilang seperti itu.
"Nya uhun atuh mnding uih wae"
"Ah cape ketang uih deui mah. Jaba isin kunu fi bumi."
Dia mengabari ku , bahwa masih ada kuota 300 lagi, untuk pemberangkatan jam 17.00.
"Kabagean teu nya , mudah2an kabagean." harapnya.
"Muhun amiin." dengan replek aku melanjutkan pesanku. "Mun teu kabagean tanggungjawab pokonamah anteurkn idah uih.'
"Gass.." jawabnya.
Ah percaya tidak percaya... Aku hanya bahagia.
Cukup lama. Hingga akhirnya dia menelpon ku untuk menggantikannya menunggu antrian. "Bade nyandak heula barang2" katanya. Optimis .
Aku beranjak ke stasiun yang dekat dari tempat peristirahatanku,mesjid.
Panas. Terik. Ditambah manusia manusia senasib denganku yang sedang berjuang demi tiket 1000.
Dia memberi isyarat dengan melambaikan tangan. Ia menyuruhku untuk mengganti kan posisinya.
"Dah Bade uih heula nya, nyandak barang" katanya sambil menyerahkan kertas.
Ternyata memang cukup melelahkan. Jongkok. Berdiri.jongkok lagi. Berdiri lagi.
Cukup lama tapi aku hanya melangkah satu atau dua kali per lima belas menit.
"Ahhh, moal kebagian.. Tiket na 100 deui." kata orang2 yang ada di depanku.
Aku segera mengabari nya.
"Asli ?" tanyanya. "Ieu tos diangkot.bade kadinya."
Banyak dari mereka2 yang putus asa meninggalkan barisan antrian.
Baik yang didepan atau belakang.
Aku ? Masih penasaran.
"50 lagi" kata orang depan .
Seperti tadi aku langsung mengabari nya.
50 tiket. Tidak mungkin.
"Sudah inimah. Antosan. Isan kadinya." katanya.
Bingung. Sempat berfikir untuk pindah alat transportasi. Bis misalnya. Tapi masih suasana lebaran. Macet total. Ah tak terbayang rasanya.
Kita memutuskan untuk kembali ke mesjid. Shalat ashar.
"Kamana deui ?
"Dukaa π "
"Si wulan bisi mau brng sama k aris?"
"Mau nginep di dinan wulan mah"
"Ouuh Bade ka dinan deui ?Ari idah srng nida ?"
"Nida sigana uhun..Idah duka. Bingung keneh π "
" Bade uwih deui ?"
"Dipiwarang namah.. Da enjing ka ondangan π¬. Tapi tt purun"
"Ouh muhun...bde d anteurkeun ?πππ€£"
bingung harus jawab apa
"π π π π π , siga nu uhun." kataku.
Kalau saja aku berani aku akan langsung mengiya kan saja. Tadinya aku khawatir dia malah mundur lagi dari tawarannya.
"Bisa. Ngan moal nepi rumah." katanya.
Ah rasanya aku ingin diam saja dalam rasa itu. Rasa yang cukup unik. Dan aku suka.
"Di triplekkan nya siga ust dikdik us via." candaku.
"Ngan kumaha nya.. ππ€£" katanya. Mungkin diapun ragu.
Yasudah . aku tak ingin terlihat sangat menginginkan diantar oleh nya. Kalem dah. Kalem. Kataku.
"Kela ngemutan deui... Sugan si aa kersaeun ngjemput.. Da kana mobil mah maceeeeeetttt jaba pinuh.. Tadige tatih sajajalan" walaupun dalam hatiku aku sangat berharap dengan nya.
"Nya sok , Duh karunya Turut berduka cita ππ Isan bde uwih deui ka bumi."
Ku lihat dirinya berangkat dari mesjid. Sesak. Rasanya belum ingin berpisah.
"πππππTeuh da , Mangga ketang π " tapi yasudahlah..
Lagian mesjid kala itu penuh oleh orang2 yang gagal mendapat tiket.
" Teu aya tempat ngiyuhan , Masjid pinuhπ"π
"Baso heula ath .. "
"Isan bade naek angkot . Nuju jalan knh Pami bade naek angkot jalan heula ka alun2 ngke aya 04 ."
"Bilih bde sareng, hayu. Isan nungguan di tukang basoπ€π€π"
Pesan darinya , berturut-turut. Bukannya tak mau memenuhi ajakan. Ah rasanya sangat malas untuk beranjak pergi meninggalkan masjid tsb.
Setelah cukup tenang, aku dan kedua teman ku segera pergi.
Bakso. Tujuan kita kala itu. Sepertinya pas untuk suasana seperti itu. Sambel yang banyak.
Bakso makanan segala cuaca. Kita berjalan mencari bakso terdekat. Karena bagi kami bertiga bakso itu tak perlu enak. Sudah ada judul bakso nya pun kami puas. Oke, sudah terlihat. Bakso gejrot.
Kamipun berbincang-bincang , hangat . dan aku bahagia.
Tiba-tiba ... Pesan whatsapp masuk.
" Kumaha aa teh ?" tanyanya . sebenarnya aku sudah punya jawaban sedari tadi. Jauh sebelum dia menyuruhku tuk memastikannya. Aku hanya ragu saja untuk pulang dengannya. Ragu. Bukan tak mau.
"Teu aya sim na cnah, D razia. Dipaksa alimeun"
" Kumaha ath,?" tanyanya lagi.
"Entahlah" jawabku.
" Hyngna kumaha?" tanyanya kembali. Satu menit aku berfikir. Membiarkan pertanyaan itu. Mencari jawaban yang tepat. Inginnya aku berkata , hayu mau nganterin mah. Tapi aku belum berani.
" Kaberatan teu lmn di anteurkeun ? Mung moal nepi rumah" dia bertanya lagi. Akupun tersenyum. Ini yang ku tunggu..
Ah bodohnya aku kala itu, aku tak berfikir bagaimana cara aku melupakan kenangan itu. Aku tak berfikir bagaimana aku harus melewati hari tanpa melupakan masa itu. Ya masa bersamanya .
"Teu nanaon sih, ngan isan karunya."
"Alaaah..Tos biasa, Nganteur jauh lngsung pulang deui mah." katanya. Meyakinkan.
Aku tau kala itu dia sedang khilaf, dia mencintai wanita yang salah. Sampai berani melakukan hal tersebut. Maafkan aku.
Keputusan akhir, kita sepakat untuk pulang bersama. Setelah aku mencoba mengelak ajakannya lagi dengan cara "naek ojek online wae kitu nya.?"
Dia mempersilahkan, tapi ... "Mung gojek mah terbatas na jarak na. Ciawi ge teu dugi." katanya.
Akhirnya setelah perbincangan yang cukup . aku pergi dengan ojek online menuju rancabango. Karena Dirinyapun merasa was-was.
"Dimana idah ngantosan na ?"
"Teu langkung, di tempat nu aman dan rawan pencurian." katanya. Dari sana aku faham, bahwa dirinya tak ingin ada yang tau tentang kejadian itu. Akupun sama.
