Kamis, 08 September 2022

Kalah lagi

Awalnya atas dasar  merasa tak pantas bersanding denganmu, aku ingin merasa menang untuk tidak menghubungimu, tidak menyapamu, tidak berkabar padamu.

Namun aku sadar, sebelum aku melakukannya kamu sudah pergi lebih dulu. Tanpa menghubungiku, menyapaku bahkan mengucapkan selamat tinggal padaku.

Oke. Aku kalah lagi. 

Minggu, 15 Mei 2022

Terjeda sebentar

Pernikahan sesama Alumni di pesantren yang sama adalah momen Reuni tanpa wacana. Semua angkatan hadir tanpa harus dipaksa datang. Saling sapa antar teman, kakak kelas, adik kelas, ustadz ustdzah. Indah sekali bukan.

Pun dengan aku dan teman angkatanku yang sama-sama datang memenuhi undangan ustadz dan ustadzah terhebat kami. Yang nantinya akan menjadi pasangan Favorit, semoga.

Aku berangkat dari rumah satu hari sebelum hari H. Teman-temanku yangvlain juga. Bertemu kawan lama setelah sekian lama bergelut di dunia masing-masing adalah hal yang sangat luar biasa. Waktu yang panjangpun tak cukup untuk menceritakan siapa saja yang pernah ditemui, mimpi apa saja yang sudah dicapai, dan ceriya cerita lain yang memang tidak ada habisnya.

"Berangkat jam berapa kita..?

" kata Ikhwan mau liat akad apa nggak, kalau liat kita berangkat jam 6. Kalau nggak, berangkat jam 8."

"Jam 6 aja." dengan pertimbangan kebersamaan, cerita indah yang bakal dikenang, dannn hal hal indah lainnya. 

-------------------

Shubuh kami terbangun dan bersiap-siap. Mengantri mandi, menyetrika pakaian, menyiapkan sepatu, sarapan, melipat jas hujan dan melakukan kesibukan² lainnya.

Jam 6 lewat 15 kami berangkat. Ke tempat teman angkatan ikhwan kami berkumpul. Sesampainya disana. Belum ada kehidupan. Sepi.

"Nungguin si isaan lagi beli sarapan." kata salahsatu mereka yang masih mengenakan kaos. 

Lama menunggu dipinggir jalan, akhirnya kami yang sudah siap lahir batin memarkirkan motor ke dalam. Dengan perasaan campuraduk. Kesal. Greget. 

Aku memanfaatkan luang waktu itu untuk mengelap motor yang hari sebelumnya dipakai berpetualang sambil hujan²an ke rumah salahsatu teman kami yang tidak ikut. Kotor. 

Dia datang. Senyum dan menyapa kami. Ahahahaa.. Apakabar hatiku. Dia masuk dan keluar lagi. Menggelar karpet, sambil menyodorkan 2 bungkus kupat tahu dan teko berisi air. 

"sarapan dulu." katanya. 

Kenyang. Sebelum jam 6 kami sudah menyantap bubur ayam plus kerupuk. Milikku tak pakai kecap, tanpa aku berkata seperti itu rupanya sang tuan rumah sudah tau dan segera berpesan pada sang ibu sebelum berangkat untuk membeli bubur. " Punya idah gapake kecap ya bu." Itulah pertemanan kami. Dan aku sangat senang mendengarnya. 

"ayo sarapan dulu." lagi lagi. "Enak inimah kupat tahunya." katanya. Denis membuka satu bungkus kupat tahu. Makan, dengan ke gregetan yang sama seperti sebelumnya karena belum terlihat janji tentang jam enam itu. 

"Yaudah kita ke Dinak dulu aja yu."

----------------------

"Satu jam setengah sih kalo di google maps mah." Katanya. 

Akhirnya 5 Motor berangkat menuju tujuan. Kondangan. Aku mencoba curi-curi pandang dari spion motor terdepan. Seseorang yang pernah menjadi tokoh pada buku diary ku beberapa tahun lalu. Seseorang yang sempat terlupakan karena beberapa kesibukan. Seseorang yang dikira sudah menjadi masa lalu. 

Kecepatan tinggi dan kelihaian dua motor pertama membuatku beberapa kali tertinggal, namun perjalanan yang indah dan menyejukan tidak mengurangi kehangatan pertemanan angkatan. Walaupun berkali-kali mengumpat kesal juga, karena sudah tak sanggup lagi salip menyalip dijalan kecil dengan tikungan² tajam. Namun lagi-lagi terobati dengan beberapa kenangan yang dilalui. Tentang alur yang hampir sama, perjalanan yang sama, tujuan yang sama dan subjek yang sama. 

Senyum sendiri, bercerita dalam hati sambil melewati jalan yang tak asing dan suasana yang membuat diri tak berhenti nostalgia kembali ke masa itu. Sambil sesekali melihatnya dari kaca spionnya saat aku dan kendaraan yang kukendarai mampu mendekatinya. Sisanya tertinggal lagi dan pasrah dengan tikungan dan lubang-lubang yang berserakan. 

"Kayanya harus berhenti dulu deh." Kataku pada teman yang duduk dibelakangku. Tanganku kaku, sakit sekali. Mungkin karena sudah lama tidak motoran sejauh dan seekstrim itu. Aku meremas² tanganku. Berbeda dengan dua motor depan yang sudah jauh meninggalkan, Dua motor dibelakang ikut berhenti. 

"Gapapa duluan aja." Kataku dan mereka tetap menungguku sampai aku benar-benar merasa baikan. Kekhawatiran mulai muncul bukan karena tidak hafal jalan pulang. Tetapi, karena kondisi badan yang mulai tidak enak dan kebersamaan yang gak bakal ada lagi karena ikhwan bakalan melanjutkan perjalanan untuk liburan. 

"Kita harus pulang." Tolak kami saat diajak ikut camp bersamaa. 

--------------------

Tikungan kanan menanjak menjadi tikungan terakhir kami sebelum benar-benar samlai ke tempat tujuan. Janur kuning bertuliskan nama kedua mempelai memperjelas bahwa kita tidak salah alamat. Warung kecil di tanjakan menjadi tempat kami beristirahat. 

"Mau langsung kesana..?" 

Tapi salahsatu teman kami malah menangis. Bagaimana tidak, perjalanan panjang dengan tikungan-tanjakan dan salip-menyalip yang cukup mendebarkanku, begitupun dengan dia. Perjalanan penuh dengan kepasrahan mengenai amarah, kesal, nyawa dan air mata. Hanya karena pukul enam yang dijanjikan terlaksana dipukul delapan. Ya, karena keterlambatan kecepatan tinggi menjadi solusi agar segera sampai pada tujuan. 

"Nyawa loh dah taruhannya." aku hanya tersenyum. Lalu mencoba menenangkannya sambil memeluknya. 

Trek. Mata kami bertemu. Mataku dan matanya. Beberapa detik yang sangat dalam. Aku segera memalingkan pandang. Ahh heyyy. Oke. 

---------------------

"Kita nunggu dua jam tapi malah ditinggalin di hajatan orang."

Masih dengan kekesalan yang sama. Setelah 3 motor itu pergi tanpa berpamitan. Sebenarnya bukan hal yang baru untuk kami. Dibanding angkatan lain, angkatan kami tertinggal jauh dalam hal perhatian, rasa peduli, kepekaan. Entah sengaja atau memang mengalir saja adanya. Tapi memang nyata. 😂

Namun tidak dengan hari itu. Mereka ada. Dia ada. 

"Pamit yaaa.."

-------------

Dan tentang perasaan  yang ada. 

Ternyata, bukan hilang bukan selesai. Hanya terjeda sebentar. 


Cerita Cikatomas 7 Mei 2022 


-Pamulang, 16 Mei 2022