Senin, 29 Juli 2019

Rindu pulang

Dalam hatiku sungguh ingin kembali
Dalam kisah yang akan selalu terkenang dihati
Canda tawa yang seiring menemani
Dalam ruang hampa yang terterangi oleh api

Namun kini dimana canda tawa itu
Semua terjadi seperti angin yang berlalu
Berhembus santai dan cepat dengan lugu
Tanpa ada rasa sepi yang membelenggu

Aku disini setia menunggu yang takkan ada
Menyesal akan semua yang telah lama
Membuka halaman baru dan terus bertanya
Kapan semua kembali seperti saat disana


Karya : ahmad fajar cici mulyana

Kamis, 25 Juli 2019

Kembali

Aku sadar bahwa aku harus benar-benar menerima dan mengikhlaskan.
Rasanya tak bisa jika aku harus terus menyimpan rasa untuk 5 tahun bahkan 6 tahun kedepan ..
Bukan karena tak mampu mempertahankan cinta..
Aku hanya malu, mempertahankan yang belum pasti. Jelas itu sangat belum pasti. Apalagi jika hanya membuatku lupa pada-Nya.


######

Kau genggam erat tanganku. Malu-malu. Baru saja terlaksana akad pernikahan. Bagaimana aku percaya , karena sebelumnya kita sudah menentukan pilihan yang cukup sulit untuk mendamaikan rasa. Mengembalikan seperti semula. Kau memilih untuk melanjutkan study di pondok pesantren. Dalam jangka waktu yang cukup panjang, padahal  sudah beberapa  kali aku meyakinkanmu bahwa pilihan itu akan sangat sulit, terkhusus bagiku. Aku bukan memilih melanjutkan kuliah, tapi kamu yang memilih, dan aku mengikuti saja. Karena saat aku ditawarkan untuk menikah dengan lelaki yang jelas bukan kamu, aku benar2 enggan.  Hanya ingin kamu. Tapi semuanya terlambatkan ? Yaa kamu sudah menentukan jalanmu. Tanpa peduli hatiku ? Salahkah jika aku berbicara seperti itu? 
Tapi di hari itu........ 

Kau memandangku dari jauh. Pandangan mesra, sangat. Kau tersenyum . Aku ingin segera mengabarkan sahabatku bahwa kau telah menjadi milikku, dalam ikatan yang sah. 
Sederhana acaranya. Aku sangat bahagia. Seperti menemukan lagi sesuatu yang paling ku sayang yang telah lama hilang. Kau masih memandangku, dengan sedikit malu aku membalas tatapan mu, kau tersenyum lagi. 


Aku masih belum percaya dengan semua itu. 
'Apakah aku sedang bermimpi..?' 
Tak ada yang menjawab. Aku berfikir kerasssss. Karena aku ingat beberapa hari yang lalu, kita chatting  bahwa kamu sudah di pesantren barumu dan kamu sedang izin kala itu. Ke warnet . Kamu juga sedikit bercerita tentang itu. Pas jam set 12 kamu pun pamit, untuk segera pulang ke pesantren lagi agar tidak telat shalat dzuhur.katamu. 



######

Benar saja. Aku terbangun dari tidurku.
Untuk yang ke berapa kalinya.. Yaa memimpikanmu bukan hal yang langka . terbilang cukup sering.
Tapi tiap Aku terbangun, selalu kaget...
Segera ku sadarkan diriku bahwa itu hanya sekedar mimpi..
Ku yakinkan diriku bahwa itu semua tak nyata.. Kau tidak membatalkan pilihanmu. Kau berada di pondok pesantren. Kau telah pergi. Dan kembalinya engkau , tidak dapat kupastikan.
Hanya bunga tidur.. Aku takut diriku kalah.. Tapi syukurlah, aku mampu sadar.
Aku hanya tersenyum.
Mimpi indahkah ini?


Aku tidur lagi..


######

Aku akan pergi mengantarkan kawanku, dinan rita ima ... tapi tak ada kendaraan yang bisa ku pakai, hanya mobil milik kak Alya. Beliau sedang melanjutkan study di turkey dan menitipkan mobilnya padaku. 
Akhirnya, kami pergi dengan itu. Di supiri oleh melisa. Tetanggaku. Tapi ikut, hanya sebentar. 

Aku meminta izin untuk pergi ke jakarta, bersama ima, zidan, tania, nopi ,kamu dan entah siapa lagi. 
Tadinya aku akan pergi dengan sepeda motor. Tapi ada sesuatu yang membuat ku malah tak jadi pergi. Dan aku lupa apa itu.


Aku kembali lagi ke rumah. 
Membantu ngpak makanan di pabrik , keripik kentang dan cilok. Tapi aku gatau 
Milik siapa pabrik itu. 


Ada sesuatu yang jatuh. Aku akan mengambilnya. Saat ku melihat ke depan rumah tetanggaku, mang anda. 
Kau ada disana. Sedang apa ? Ku yakinkan kembali. Ia benar. Kau disana. Aku melihatmu, tapi tidak denganmu. 
Aku melanjutkan mencari saledri. 


Ada pesan masuk. Darimu. Kita chat banyak, aku mengarahkan pandangan pada dirimu. Jarak kita tidak dekat, tidak juga terlalu jauh.kau mengirimkan fotoku. Ternyata dari tadi kau memperhatikanku.
Kau tersenyum lagi. Dari jauh. Aku membalas senyummu.
"Ini bukan mimpikan ?" tanyaku di chat. 
"Bukan, " katamu. Kamu menceritakan tentang perjalanan menuju ikatan halal tersebut, dengan sangat yakin. Ya kita sudah menikah. "Aku sudah tidak mondok lagi." katamu. Kamu terus bercerita hingga aku benar2 percaya.


Masih dengan jarak yang sama, ah kala itu aku masih sangat bahagia. Percaya tak percaya.  Aku ingin bilang bahwa aku sangat merindukanmu selama kamu di pesantren kemarin. Aku ingin bertanya , kalau sudah menikah tidak apa kan kalau aku merindukanmu. Tidak salah kan? 

"Am I wrong if I Miss you..?" tulisku untukmu . Di pesan, entah apa, tapi kurasa bukan whatsapp. 
Aku memikirkan kata tersebut.. 
Am I wrong if I Miss you ? 
Apakah aku salah jika aku merindukanmu ?
Untuk suami istri , itu tidak salah. Bisa jadi ibadah. Ya kamu sudah resmi menjadi suamiku.
Belum sempat kamu membalas. 


######



Aku terbangun lagi , aku tersenyum lagi. Ternyata aku memimpikan mu untuk yang kedua kalinya. Di malam yang sama.
Segera ku ambil gadget milikku, dan kutulis semuanya. Seingatku saja. 

Sekarang aku sadar bahwa yang kualami barusan benar2 mimpi. Sekedar mimpi. Sekuat apapun kau meyakinkanku . 
Semoga kau baik-baik saja , disana. 
Aku mau shalat dulu, aku ingin mengadu, bahwa nyatanya aku rindu. 
Maaf . aku rindu kamu.lagi.

Jum'at, 26 Juli 2019.
Tahajud.
Istikharah

Selasa, 23 Juli 2019

My Brothers


Hari ini, senin 2 july 2018
Tentang perasaan.
Masih benar- jelas terekam saat aku mengadukan segala masalahku padamu, tak ada seorangpun yg ku beri tau tentang hal itu. Kecuali dirimu. Aku menangis, merasa bahwa hidupku memang tak berarti lagi, tak berguna, sampai aku berfikir untuk mengakhiri.
Saat itu, saat semua orang seperti asing bagiku, saat semua orang menutup telinganya untukku, saat semua orang mengalihkan pandangnya dariku, kau datang...
Kau datang sebagai embun yang menyejukan padang gersang..
Laksana pelita dimalam gelap gulita..
Kau yang selalu menghargaiku dengan sabar mendengarkanku.. Walau tak semua masalah kau beri solusi, tapi
Setidaknya kau setia menerima keluh kesah ku.. Kau korbankan waktu tidurmu hanya untuk mendengarkan isak tangisku.. Setidaknya.. Kau menganggapku ada.
Waktu berlalu dan kau selalu seperti itu dengan ceritamu yang tak pernah membuatku ragu untuk memberi nilai 100.. Good story.
Dengan senyum manismu..
Kata penguat hidup ku..
Segala sesuatu tentangmu, aku katakan "kamu itu unik" dan apa yang aku dapatkan darimu adalah hal paling indah untukku, dan aku merasa nyaman.
Kau juga tak pernah sungkan memberiku bantuan2.. Dalam segala hal.. Sampai kau rela diam menunggu dari ashar sampe isya.. Hanya untukku. Ya bukan yang lain. "bilangin ka bu dokterna abi heula, karunya aa ngantosan."
Kamu tau pada saat itu aku bnr2 bahagia.
Kau langsung tercatat sebagai lelaki ketiga yang paling hebat dalam hidupku.
Saat aku bnr2 pusing dlm mnyelesaikan tugas makalahku kau datang.. Membantuku.
Dan aku bahagia.
Hingga pada suatu hari, aku benar2 takut kehilanganmu di suatu hari. Dgn ragu kuputuskan untuk pergi meninggalkanmu. Agar saat kau benar2 pergi aku tak terlalu merasa kehilanganmu. Agar saat kau benar2 harus menempuh hidupmu yang baru, aku tak terlalu merasa kehilangan mu. Ya , agar aku terbiasa dengan itu.
Tapi tingkahmu membuat aku bertahan untuk menjadikanmu sebagai orang hebat.. Orang spesial mungkin.
Semua terus berlalu dengan dirimu yang seperti itu. Dan aku bahagia mengenalmu. Menjadi orang yang dekat denganmu.
Hingga sampailah pada saat perpisahan itu.. Saat aku benar2 akan kehilangan jarak denganmu. Ya kau akan pergi. Sedangkan aku tetap disuatu tempat yg kita tmpati 3 taun lamanya dgn bersama.
Sungguh itulah perpisahan tersulit bagiku, dimana aku akan kehilangan orang2 yang sangat berpengaruh bagi hidupku. Aku akan berpisah dengan tmn2ku.. Juga denganmu.
Kita berfoto bersama, dan berpisah.
Tapi saat aku pergi meninggalkanmu yg masih ingin disana, aku merasa ingin kembali. Masih banyak hal yang ingin ku katakan, karena aku sadar apakah kita bisa berjumpa lagi atau tidak.
Dan aku yg telah dalam perjalanan pulang memutuskan untuk kembali. Agar esoknya masih bisa berkata2 dgnmu atau sekedar melihat senyummu.
Pagi buta aku mencari suatu hal.. Yang akan kupersembahkan untukmu. Aku sadar bahwa kita akan berjauhan.. Aku inhin memberimu sesuatu agar dengN kau melihatnya, kau akan mengingatku. Mungkin.. Meski memang tak terlalu berharga mungkin.
Pagi itu kita ber3 berkumpul.. Ah sungguh begitu sedih kala itu.. Berat.. Aku tak tau kapan lagi kita berjumpa.. Aku tak tau adakah waktu untuk itu. Aku tak tau..
Saat itu merupakan salahsatu hal terberat dalam hidupku.
"idah minta maaf ya"

29 oktober. Haturnuhun sadayana
















Kehadiranmu




Abis nonton video khitobah.
Taukah kamu, bahwa pada kala itu aku berharap engkau hadir dan melihat penampilan terbaikku. Dari jauh hari aku siapkan agar aku bisa memberikan yang luar biasa. Karena kamu adalah objek dari semuanya, tentang khutbah itu juga perasaan.
Dengan khutbah itu ku selipkan pesan-pesan tersimpan, aku berharap kau dapat sesuatu yang tak rumit namun pasti, aku ingin kau mengerti.

Kegalauan itu bermula saat maghrib itu, entah kenapa aku benar2 ingin menemui. Tapi kau tak kunjung hadir.
Sang Acuy berkata bahwa kau pergi dalam waktu yang cukup lama. Aku tak mengerti.


Aku masih menunggu, berharap kamu ada.
Gladi khitobah pertama, kau tak hadir. Esoknya...
Gladi kedua, kau tak juga hadir. Aku ingin tau apa yang terjadi , tapi aku siapanya kamu?  Dan akhirnya... "Tadi, isan gak bakal ikut khitobah ?" aku memberikan diri bertanya pada sang ustadz .
"Nggak kayanya. Lagi tes buat kuliah" jawab ustadz zulfa.
"Gak bakal ngandani atuh stadz ?"
"Kuliah dulu katanya." asli nyesek. "Emang kenapa gitu..?" lanjutnya.
" gpapa." aku pura2 baik baik-baik saja. Aku tak perlu menceritakan apapun pada beliau. Jika ku ceritakan pun mungkin takkan merubah apapun kan?

Dan sejak itu, aku tak berharap kau datang, aku tak berharap kau hadir, tak berharap kau melihat penampilanku. Aku tak berharap apa2. Tepatnya, aku lupa. Memang bisa?  atau mungkin memaksa diri untuk melupakanmu.

Acara dimulai, teman-teman mu , temanku... Mereka menampilkan yang terbaik, seru. Tapi tak ada kamu.
Aku belum di panggil untuk maju kedepan, sesekali aku melihat keluar. Ternyata masih sedikit berharap ada yang hadir selain ratusan penonton yang telah ada.

Sore itu acara masih berlangsung, ikbal sang juara.. tampil. Luar buasaa. Setelah itu aku.
Aku harus melakukan yang terbaik. Meski tak ada kamu. Aku harus bisa. Kata orang aku juga luar biasa. Tapi menurutku tidak, tidak ada kamu.
Setelah tepuk tangan yang tertuju padaku mulai sayup, Muhas tampil... Syara tampil .. Tapi audience yang berada di belakang ku tetap meluncurkan pujian padaku. Tapi aku tak bahagia. Sama sekali. Acara ditutup. Akan dilanjut bada isya.

Aku pergi meninggalkan aula, menuju kamar. Tiba2 ima menyenggol badanku, mengatakan sesuatu.. Berkata bahwa kamu ada. Udah pulang dari Bandung. Ah dirimu,
kenapa gak dari tadi ?
Kenapa gak liat idah tampil?
Kenapa juga idah tampil nya sore ? Kenapa gak malem aja ?
Aku semakin kesal.
Kenapa kamu datang sore itu ?
Kenapa tak besok aja sekalian ?


Aku bingung dengan diriku, rasanya ingin tampil kedepan lagi, agar dilihat oleh mu ? Mungkin. Padahal orang bilang aku sudah menampilkan yang terbaik. Tapi kurasa tidak.
Malam hari. Kamu tampil. Bahagia bisa melihatmu, tapi tetap saja. Masih terasa sesak.

Saat pengumuman, aku ditaqdirkan menjadi yang terbaik. Dan harus kedepan. Tapi sayang, kau sudah pergi meninggalkan aula beberapa saat sebelum pengumuman berlangsung. Sempat berfikir bahwa kamu hanya pergi untuk sekedar ke kamar mandi , atau mengambil sesuatu... Atau apalah... Dan akan kembali.
Tapi sampai penghujung acara, aku yang selalu menunggumu tak mendapati apa yang kutunggu. Bahkan saat foto bersamapun.

Yasudah tak apa. Lupakan saja dan jangan tanyakan lagi tentang itu. Ini hanya sebatas curahatan cerewetku.

Aku baik baik saja,
Aku akan berusaha untuk baik-baik saja


Sabtu , 19 Mei 2018
Hujroh madinah.
Malam.


Cerita Hari Rabu


" Gimana nih ? Terusin gak?" Tanyaku pada syara dan Nida, yang kala itu tengah makan bersamaku sesuatu pagi.
"Udah ah, terusin aja. Lagian kan udah izin." Jawab syara sambil makan telur lauk pagi itu.
Sedikit deg-degan takut ustadz Nanang Marah seperti peristiwa beberapa bulan yang lalu , beliau tidak memasukkan siswi kelas 4 karena telat.
"Aisyah, kamu kenapa ikut2an telat? Bukannya udah berangkat dari tadi pagi?" Tanya Mailan di depan kelas. Aisyah hanya tersenyum. Kita yang di luar mencoba ngintip selama pelajaran berlangsung sampai setengah jam. Nelangsa memang. "Masukk..!" dengan suara tegasnya, kita masuk dalam rangka taat perintah sang guru. "Kenapa kalian telat?" suaranya keras, matanya melotot. "Harusnya ......... Blablabla"

"Ohok ohok.. " Suara batuk Nida yang sedari tadi khusyu makan menyadarkan bayangan hitam. Gelap. Masa itu.
 "Yuk ah ke kelas.." ajak ku.
"Entar dulu, kalo telor ini abis ." sela Syara sambil memegang sepotong telor goreng.
Nida sibuk mencari cangkir karena gak kuat pengen minum. Keselek.

"Nid, te.. Hayya.." ajakku. 'Lah ? Kenapa ustadz Nanang nya malah pergi ya?' tanyaku dalam hati. ' oh mungkin bukunya ketinggalan' kataku lagi, mencoba menenangkan hati.


Sesampainya di kelas yang hanya berjarak 15 meter dari kamar, aku Nida dan syara langsung menuju bangku kosong. "Eh kemana ustadz nanang nya?" tanya nida pada teman yang sedari tadi sudah standby di kelas, sambil grusak grusuk.
"Marah kali, soalnya gaada spidol." jawab Nada agak cuek. Nida sebagai sekretaris kelas bergegas pergi dengan aisyah untuk mengambil spidol, mungkin.
"Nad ? Emang tadi ustadz nanang nanyain spidol ya?" tanyaku. Nada melirik sambil mengangguk. Cukup kesal, masa gara2 spidol aja marah. Tiba tiba..

"Eh, jangan-jangan ustadz nanang marah karena kalian pada telat lho.." kata aisyah yang baru datang. Diikuti nida dibelakang nya dengan menenteng spidol snowman.
Ima , Rita, wulan serempak melirik aisyah.  "Oiya bisa jadi." cetus ima. "Cepet susul ke rumahnya."

Syara dan Mailan segera pergi meninggalkan kelas. Ramainya kelas menutupi kekhawatiranku, tapi hatiku makin cemas, terlebih aku adalah tokoh dalam cerita ini, ya aku yang telat di hari itu.

"Tuk, tuk , tuk.. " suara sepatu. Mataku segera menuju pintu, berharap Mailan syara segera kembali, huh ternyata teman laki2 ku. Sekelas. Aku kembali ke tempat duduk.
Waktu terasa lebih lama, datanglah syara dan Mailan . 'lah kok wajahnya pada luyu sih, jangan jangan...'

"Gimana mei..?" tanya nada. "Ustadznya marah, soalnya kita pada telat." syara yang jawab. Mailan kelihatan ingin berbicara , "kenapa mei?" tanya aisyah, mengerti ekspresi Mailan. "Kata ustadz Nanang kita kaya yang gak butuh ilmu aja, terus langsung nutupin pintu." suara Mailan semakin lesu. "Jadi gimana?"
"Kasih tau ikhwan, abis itu kita ke rumahnya. Minta maaf."
Syara yang paling pemberani diantara kita langsung memberi tau ikhwan.(teman laki2)
"Syara sih telat." kata salah satu ikhwan.
"Lah, kan kamu juga telat." jawabnya.
"Kita cuma telat bentar, kamu malah makan dulu."

Akhirnya, pasukan kami yang terdiri dari beberapa siswi segera pergi meninggalkan kelas menuju rumah ustadz Nanang. Belum sampai tujuan, aku dan teman2 bertemu virus dan ismail . "Gak ada ustadz nya juga." kata viras dengan gugup karena bertemu segerombol siswi. "Ah masa? Di rumahnya gak ada?" Tanya Syara. Viras dan ismail saling lirik sambil angkat bahu dan tangan nya. "Gak tau, kayanya nggak."


"Assalamualaikum.." deg2an juga, aku ,Ima dan Nida mencoba salam di depan rumahnya. Sedangkan Nada ,syara dan teman2 yang lain mencari di kantor.
"Assalamualaikum.." salam ke dua. Masih tak ada jawaban. Cemas, takut beliau benar2 marah dan tak mau membimbing kami lagi.
"Assalamualaikum.." salam terakhir. Makin deg2an. Antara takut ada dan takut gak ada. Jika ada mungkin kami kena marah, kalau gak ada , ah sungguh malangnya nasib murid seperti kami yang masih minim ilmu ditambah kena marah sang ustadz belum sempat minta maaf.
"Krek.." pintu terbuka. deg... Aku menundukan kepala. Teman2 yang dari tadi sudah berada bersamaku pun tanpa komando dan isyarat sama. Menundukan kepala.


"Waalaikumussalam.." suara wanita. Reflek mata kami menuju sumber suara.
"Ustadz nya ada , ustadzah?" tanya aisyah . Ternyata ustadzah Lulu, istri ustadz Nanang.
"Nggak ada, bukannya lagi ngajar ?"
 aku dan teman-teman mencoba menceritakan yang sesungguhnya. Sedikit malu juga.
"Hmm gituuu.... Kalian sih ada2 aja.."
"Ih .. Kan gimana lagi ustadzah."
"Coba cari di kantor.. Di rumah mah gak ada dari tadi juga."
" gak ada ustadzah."



"Terus kita gimana nih.?"
"Yaa gimana lagi, diemin ajalah."
" kayanya ustadz nanang mau ngasih kejutan buat kita..sambil bawa kue."
Semua tertawa.. "Iya iya bisa jadi.. Terus sambil nyanyi happy birthday to you..." lanjut Nada, sambil menggoyangkan badannya. Kami makin tertawa.


"Hehhh, kalian kenapa malah ketawa sih..?" bentak syara yang sedari tadi memang tak ikut gabung. Tawapun terhenti. Hening.
"Kalian mikir gak sih..? Ustadz Nanang tuh guru, ustadz, doanya mustajab." syara marah. Kami tertunduk. "Kalian kaya yang gak punya salah aja." syara benar, kami semakin diam. Apa yang di katakannya emang betul, sangat. "Gimana coba kalo ustadz doain kita yang nggak2."
"Jangan suudzon lah.."
" Bukannya suudzon, tapi orang yang sakit hati itu biasanya susah mengontrol dirinya. Ingat, menumbuhkan kepercayaan tak semudah meruntuhkannya."


Semua terdiam. Termasuk aku. Aku yak tau apa yang ada dalam fikiran teman2ku, entah rasa sesal atau hanya menghargai yang berbicara. Yang jelas aku bertekad untuk meminta maaf lagi dan tidak pernah mengulanginya lagi. Begitupun mereka,mungkin.




Kejadian ini berlangsung pada hari rabu tgl 2 maret 2016.
Cerita ini ditulis di buku pada tanggal 3-4 Maret 2016. Pas waktu aku kelas X aliyah.
Kurang lebih ceritanya seperti itu, aku hanya menyalin dari buku. Dan ceritanya sudah agak lupa.


Terimakasih Ustadz engkau masih bersedia mengajar dan membimbing kami sampai kami lulus.
Semoga Allah senantiasa memberimu kesehatan dan keberkahan hidup.
Semoga Allah membalas semua kebaikanmu.
"جزىك الله خيرا كثيرا... جزىك الله أحسن الجزى"
Ustadz Nanang Iskandar. Almukarrom.

Senin, 08 Juli 2019

Gone

Untuk hari ini, dan empat tahun kedepan.
Atau bahkan selamanya.. 
Aku ikhlas,, 
Tenang saja , kita masih berteman. 

Rajadesa, 8 juli 2019
Army.