Ya, Setelah kabar itu datang, waktu sebelum tidur beberapa hari terakhir kuhabiskan untuk memikirkan itu.
Awalnya aku berusaha untuk tidak mencari pembenaran, agar setidaknya aku bisa menerka-nerka bahwa kabar itu masih mungkin tak nyata. Walau pada akhirnya aku juga yang memvalidasinya.
Alasannya baik, atau bahkan mulia. Dia bukan orang biasa, untukku. Dia juga selalu menjadi dirinya sendiri. Dia selalu, hebat dan mengagumkan. Sampai, sejauh apapun aku pergi hatiku tetap berlabuh padanya. Ya, dia masih berada diurutan pertama.
"dia ngerokok dah." aku kaget. Tak mampu berkata-kata. Bagi sebagian orang, ini merupakan hal yang wajar. Tapi, untuk dirinya sangatlah asing dan menyesakkan bagiku.
Sebenarnya yang aku takutkan dari kabar ini, bukan bandelnya dia memilih jalan itu, walaupun maksudnya baik. Sangat baik.
Tapi, bersamaan dengan kabar itu aku menari nari bersama fikiran ku.
"saat dia berubah, apa semua hal juga akan berubah?"
Dia bukan orang bodoh, yang dilakukannya tidak mungkin tanpa pertimbangan sebelumnya.
"Apakah rasa yang dia miliki juga akan berubah?"
Memang, sudah lama kita tak bertemu. Berjauhan. Tak bertukar kabar. Bahkan saat pertemuan terakhirpun kita bersepakat untuk tidak saling berharap.
Walau pada akhirnya, aku kembali pada pengharapan yang tak kunjung usai. Seperti pada hari hari ini.
"dia ga setertutup dulu, dah. Sama akhwat juga ga berjarak, chat juga biasa bales, dulu kan jaga jarak pisan." tambahnya.
"wkwkwkw." jawabku pada sang informan.
Aku harus apa, aku bukan siapa-siapa.
(hari hari sebelumnya padahal baru mimpiin)