Selasa, 07 Agustus 2018

The legend of maridh aen

Peristiwa pertama yang kualami dalam hidupku , suatu hal yang agak aneh didengar , dilihat bahkan dialami oleh orang2 sekitarku. , peristiwa yang kepopulerannya mengalahkan penyanyi tingkat atas sekalipun : mang harris j . Hampir seisi sudut pesantren membicarakan hal itu , mendebatkan hal itu bahkan ekspresi mereka pantas menjadi winner orasi mengalahkan Anis mata sekalipun , karena hal itu .
"Maridh Aen" orang-orang menyebutnya. Yang katanya merupakan bahasa arab yang berarti sakit mata , Walau akupun tak tau selaraskah bahasa itu dengan bahasa yang sebenarnya . Entahlah...
Dua per Tiga santri akhwat dikelasku mengalami hal itu , mata merah seperti ada gumpalan darah , bentuknya mengecil , rasanya ? Aku tak tau , aku tak termasuk dari mereka . Aku hanya sebagai penonton , "sepertinya , dan semoga saja" kataku dalam hati.
Beberapa temanku yang memang terkenal sigap dalam hal protes, adek kelasku bahkan kakak kelasku sekalipun yang menjadi korban membujuk ustadzah agar mengizinkan mereka pulang , agar mereka dipulangkan.
Tapi sayang usaha mereka sia-sia , sangat sia-sia . Padahal kalau dilihat dari fakta yang ada mereka memang tak pantas didiamkan disini . Di tambah penjelasan mengerikan dari para korban : badan lesu , panas dingin , mata burem , saat bangun susah dibuka , pusing , gak kuat ngeliat lama-lama dan keluahan2 lainnya yang memang bisa dibilang CUKUP parah . Mata mereka disertai cairan unik , di putih matanya terdapat pecahan-pecahan merah . Ada yang kecil ada juga yang besar. Mereka ,para korban maksudnya lebih sering menundukan kepalanya , seperti yang mempunyai beban . Sujud saat sembahyang pun tak kuat lama-lama katanya. Bukankah itu bahaya ? Seperangkat yang mengerikan.
Oke. Pihak ma'had tak mengizinkan para korban pulang ke habitatnya masing-masing , tak apa . Jika mereka diurus dengan benar , dibawa kedokter , diberi obat . Kalau tidak ? Akankah mereka dibiarkan organ terpentingnya terluka , semakin dibiarkan , semakin besar lukanya , bukankah mereka yang luka matanya parah pun berawal dari luka yang kecil ?
Memangnya apakah ma'had rugi jika para korban dipulangkan ? Tidakkah ma'had risih akan ungkapan2 pedas santri , bahkan orang tua santri. Bukankah syahriyah mereka tetap dihitung sebulan tanpa dikurangi waktu ketika mereka tak berada di ma'had , tak makan daroi ma'had ? Bukankah itu lebih menghemat kas kesehatan yang memang sangat tipis ? Meski memang tak ada yang dibawa ke dokter kecuali karena ancaman ortu mereka "kalau anak saya gak dibawa ke dokter , saya bawa pulang saja" tidak ada kepekaan. Lalu bagaimana dengan orangtua yang agak cuek tidak mengancam , atah bahkan tak tau anaknya sakit.
"Keajaiban Allah lah yang mereka tunggu"

Segera kusadarkan diriku dari berbagai lamunan aneh ,,, aku tau ma'hadku punya niat tersendiri dibalik semua ini .
Haturnuhun.
09 November 2016