Senin, 25 Desember 2017

Dihargai dan Menghargai

Sangat lelah rasanya . Aku menggelarkan sajadah toska ku di shaf ke-3 , duduk menunduk. Adzan magrib berkumandang sekitar 5 menit yang lalu ,semuanya dalam penantian . Menanti iqomah yang mungkin 5 menit lagi. Posisi mereka rapih .

"Nan , cepetan jadi imam..!" suruh mailan. "bagian idah" jawabnya. Matanya mencari sosok aku. Aku tetap diam.

Iqomah di ghomidi sudah terdengar, itu artinya shalat harus segera dimulai.
"kak Didah, imam.." perintah Rahmah. Siaplahhhh.... "di jadwal, ustadzahnya siapa?" tanyaku, takut nanti aku sudah didepan, ustadzah yang di jadwal dateng, kasian, apalagi kalau apa yang akan ia bacakan sudah di dipersiapkan.

"ustadzah lina kak, gak ada" jawab seseorang yang ku tanya tadi. Akupun langsung mengambil sajadah dan berdiri menuju tempat imam. Tiba-tiba ustadzah dea masuk dari pintu dan melakukan hal yang sama, menuju tempat imam. Aku yang sedang berada di tengah perjalanan dengan spontan mengerem diriku. 'menghargai dan menghormati' tekadku.

Agak kecewa, akhir-akhir ini memang aku jarang menjadi imam, selain karena ustadzah yang separtner dengan ku sering hadir, akupun lebih sering memberikan amanah tersebut pada ustadzah 2 yang sering nyerobot kaya ustadzah dhea. Sebenarnya ada hak jika aku bilang pada para penyerobot baik ustadzah atau santriwati lainnya. "ustadzah, sekarang bagian jadwal saya," jika aku mau. Tapi dalam hal ini bukan tentang mau-gak mau, melainkan bagaimana seorang aku harus bisa dan mampu menghargai orang lain. Terutama yang lebih tua dariku. Agar prinsip timbal balik bisa benar-benar aku rasakan.

Apabila engkau menghargai, maka engkau akan dihargai.

"eh ada didah ya." kata ustadzah dhea yang menyadari keberadaanku. "sok gapapa ustadzah, antum aja." Aku mencoba menghormatinya. Tapi beliau malah berlalu. Yas udahlah, berarti aku harus maju. Akupun bangkit kembali menuju tempat itu, tanpa ku sadari dinan mengambil sajadahnya dan menuju tempat yang sama ku tuju. Dia lebih cepat sampai. Aku benar2 merasa kesal, ku banting sajadah milikku sebi saku, otomatis para calon musholli samping melirikku, mereka mengerti maksud marahku, mungkin. Karena sedari tadi mereka mengetahui apa yang terjadi denganku saat aku bolak balik.

"inikah..?" inikah balasan bagiku?  Ah rasanya ingin aku menangis, tidak adakah sedikit penghargaan darinya untuk seorang aku? Bukan kah aku seorang pemimpin?
"allohuakbar" Aku mengikuti takbiratul ihrom sang imam. Tapi rasa kesal itu membuat shalatku tak karuan, aku membatalkan shalatku . Istighfar ping...... "Allohuakbar.." takbirku kembali.

Aku selalu belajar untuk menghargai orang lain, aku selalu berusaha untuk itu. Tapi rasanya aku tak pernah di hargai, terlalu nista jika aku meminta mereka untuk menghargaiku, mungkin ada yang maksud yang salah saat aku berusaha menghargai orang lain,ada niat yang salah saat aku melakukan itu.
Husnudzonnya seperti itu 

Aku hanya kecewa saja, rupanya kalian tak memahami yang roisah kalian ajarkan, kalian belum mengamalkan.


26 November 2017
Baru di lanjut ngetik.. 🤗

Kamar Mandi Ku

Kamar mandi penuh .. Hari bertambah sore tapi aku belum juga mendapatkan antrian mandi. "Ah.. Bagaimana kalau telat , bisa-bisa aku masuk kategori pelanggar kesehatan dan pendidikan." gerutuku. 'Sungguh memalukan jika itu terjadi.'

Aku berdiri di depan WC kelompokku , meski antriannya cukup panjang . tapi tak apalah . soal telat itu ? Mungkin ini lebih baik daripada aku tidak mandi seharian. "Hey.. Siapa disini ?" tanya nada sambil mengetuk pintu wc paling ujung. "Abis kamu lah.. Soalnya ini kelompokku." tambahnya. "Masih lama kak.. Lagian tadi kak wulan yang duluan ngantri ke aku ." jawab seseorang dari dalam kamar mandi. "Wulan bukan kelompok aku" kata nada. "Pokoknya abis kamu nada . kan harus di kelompoknya masing-masing."

Aku masih tetap dalam posisiku, sambil ku perhatikan keadaan sekitar , ku lihat satu persatu makhluq sekitarku yang bisa terlihat tentunya. 'Membosankan'

"Siapa disini ?" nada mengetuk pintu kedua ujung. "Abis kamu siapa ?" tanyanya lagi. "Gatau kak .. Aku cuma ikut pup." jawab yang dari dalam. "Nada lah.. Nada belom mandi nih." kata Nada , pasukan ku di ISTN .

Hey.. Hey... Aku berontak. "Kan harus di kelompok...!" kataku mengulang ucapannya tadi. "Kan nada belom mandi." jawabnya enteng. "Kasianlah kelompoknya." kataku. Ia berlalu , masuk ke kamar mandi.

Sedih rasanya , seperti itukah mental pasukanku ? Padahal tadi dia sendiri yang mengatakan harus mandi di kelompok masing-masing. Malahan dia marah saat orang lain yang bukan kelompoknya ngantri di wc nya. Tapi dia sendiri ngantri lagi di kamar mandi lain , yang jelas bukan kelompoknya. 'Sadarkah kawan?' bukankah yang lainpun sama akan merasa kesal dan handeueul saat wc nya ditempati orang lain ? 'Seperti halnya kesalnya kau saat wulan ngantri di wc mu'

Malu rasanya. Bagaimana jika a'dlo-adlo kita mendengar atau bahkan menyaksikan hal ini. Masihkah kita akan di dengarkan ? Masihkah kita akan dihargai ? Disegani ?

Aku tak melakukannya . tapi aku terbawa malu olehnya , karena aku tak mampu menegurnya. Entah karena benar-benar tak mampu atau tak berkemampuan. Entahlah..
"Forgive me , God.."

why am i live here ?

"Udah san .. Jangan nangis !" aku terus membujuk sani agar berhenti dari tangisnya . entah yang ke berapa kalinya . "san.. Kan cuma bercanda." aku tidak menyerah . tapi hasilnya nihil .. Ia masih tetap menangis , meski volumenya berkurang , lebih kecil sedikit .. Masih dalam posisiku , mengelus-elus kepalanya 'siapa tau kondisinya lebih baik.' ah menyebalkan... Ingin rasanya pergi saja , tapi rasa salahku membuatku terdiam lebih lama , memaksa diriku untukku belajar tanggung jawab. Tanggung jawab atas tulisan itu yang membuatnya menangis . "ima nurfadilah sableniyah." seperti itulah. "Atuh da nama ana ada disana ." jawab sani saat ditanya nurul , "kenapa menangis ?"

"Udah atuh san.. Namanya juga di ponpes , banyak ujian . lagian itukan cuma hiburan."  kataku. Ia ? Masih tetap dalam posisinya . "Nurul juga gakpapa di becandain sama kak nazmah?" tambahku sambil melirik Nurul , ia hanya tersenyum . cukup manis. "Siapa ini yang nulis ?" tanya nurul sambil menunjukan coretan di meja , sembari mengalihkan pembicaraan. 'Ka ihsan kapan main bareng , 10 kh' tulisan yang ia tunjuk. "Masa we idahmah." jawabku . seperti biasa iapun tersenyum . entah apa maknanya.

Sani masih tetap menangis , masih berduka gara-gara namanya di rentetkan dengan nama ima , seseorang yang di khobarin sama iqbal , kakak tersayangnya , mungkin.

"Siapa ya?" Nurul bertanya lagi . "kak nazmah mungkin lun.." jawabku ."calon teteh tuh lun." tambahku , sedikit sulit aku mengatakannya. "Ih gak mau... "  tolaknya dengan wajah sinis . "kalo misalnya jadi gimana lun ?" aku bertanya terus . ngoconan. Jarang-jarang aku ngobrol dengannya . "gak." jawabnya tegas. "Eh .. Jangan gitu.." "da anamah gak mau kakak ana nikah sama anak NI lagi ," ah seperti terbesrett oleh kater baru.. Peurih lun. "Kenapa gituh?" aku tetap kepo. "Anamah gak mau sama yang udah kenal aja." jawabnya . 'ah
. kalau tau begini , tak ingin aku mengenalmu , lun."

Aku tau semua keputusan hanya pada-NYA . tapi setidaknya akan ada kecanggungan. Sudahlah.... 'Gimana jika takdirnya begitu?' "yuk ah san , ke hujroh..!" ajakku pada sani.


Parakanpanjang , 23 November 2017

Si Dia di Sabtuku

"Harapan itu selalu ada , baik sang objek menyadarinya atau tidak ."

Aku terlalu semangat untuk menghadapi hari ini , hari yang kutunggu sejak seminggu lalu . karena ada suatu hal tentunya . "insya allah minggu besok kita belajar di saung pinter, sekalian botram." janji seorang guru padaku daan teman se-ku. Bagi kami ini merupakan hal yaang sangat membahagiakan , jelas .. Karena kami bisa merasakan nikmatnya pemandangan luar , angin luar , bisa menghirup oksigen luar intinya bisa keluar daari penjara suci. Itu saja.

"Laper.." pekik ima , memang akhir-akhir ini dia dan shogoir kelas XII makan melebihi porsi wajarnya, jadi dimaklum saja saat pagi menuju siang yang seharusnya sudah pada makan mereka merasa lapar karena khusus untuk pagi ini kita , yang merasa lapar khususnya menahan perutnya terlebih dahulu. "Jajan ka umi yu daah.. Gak kuat ima mah." "yuk atuh" jawabku setelah aku dan dirinya membersihkan ruang kelas , bukan jadwal piket memang , tapi menguatkan kesadaran saja "kalau bukan kami ya siapa lagi." karena jika yang kita lakukan hanya saling menyalahkan mungkin takan pernah terselesaikan . kelaas gak bersih , guntreng tak henti.

Aku dan ima mengambil kresek masing-masing , "son .. Tuh idah" ledek salahsatu teman ikhwanku pada seseorang yang sejak tadi diam didepan mesjid. Aku ? Pura-pura tak dengar saja , meski keinginan sebenarnya ya bukan begitu . tapi untungnya aku sadar jika aku membalas ledekannya atau terjanjung akannya itu hanya akan mempersulit keadaan.

Sesampainya di kelas kudapati 90% dari temanku bak warga somalia , kelaparan. "Yuk ah makan aja sekarang." "terus botramnya gimana dong?" "ah.. Gapapalah , makan aja yuk." hmm.. Aku tak terlalu tertarik untuk berpihak pada si lapar atau si teguh pendirian . "udah entar makannya kan mau botram . kasian ustadz" karena memang sudah tak mampu manahan akhirnya merekapun makan. Seluruhnya , termasuk si teguh pendirian.

Tak lama setelah itu , ustadz datang ke kelas bersama ikhwan sekelasku. "Buka sepatunya..!" teriak dinan. Ihsan masuk dengan melepas alas kakinya dan duduk di bangku depan sebelah kanan. Tapi , seperti ada sesuatu yang hilang darinya , dia yang biasanya ceria terutama pelajaran ust rusydie.. Aku kehilangan senyumnya. Entah karena sepatu yang harus dilepas sesuai dengan perintah paksa dari dinan , entah karena aku. Mengapa harus aku ? Entahlah..

Setelah dipastikan saung pinter busa dukunjungi , ikhwan berjalan meninggalkan kelas lebih awal. 'Kamu kenapa ? Marah sama aky ?' tanya hatiku. 'Kalau marah , karena apa?' tanyanya kembali pada dia yang duduk di kursi depan rumah sebrang pesantren , tapi tak bisa didengar siapa-siapa. Sunyi dihatiku saja .

'Adakah aku yang salah ? Karena apa ? Karena aku tak sesempurna yang kamu bayangkan ? Karena aku tak sebaik yang kamu angankan ? Atau karena dia yang namanya kau sebut -sebut saat penentuan panitia haflah? Dia yg sungguh sempurna nan mempesona ? Dia yang jauh dari kekurangan ? Dia .. Yang membuatku menjadi seseorang yang lemah.. Rapuh... Hanya karena kamu menyebutkan namanya agar masuk pasukanmu, agar bisa bersama ? Begitukah ? Lalu apa arti semua kata-katamu kemarin ?  Apa arti harapan yang selalu ku tangguhkan ? Apa... Seharusnya kamu tak perlu memberiku kebahagiaan , agar aku tak perlu menangguhkan harapan. Tak perlu kamu mengeluarkan kata-kata indahmu.. Tak perlu. Agar ketika aku kehilangan mu , tak perlu aku mengenangmu , tak ada lagi hatiku yang tersakiti karena melelehnya janji mu. Agar aku tak terlalu rapuh.'

Ustadz mengendarai sepeda motor nya , kita berjalan di tengah hamparan sawah. Sehingga sejauh apapun jarak ikhwan dgn akhwat , tetap saja terlihat. 'Kamu yang terlihat , kamu dengan tas reimu' aku tak tau mengapa mata ini selalu tertuju pada mu meski dibumbui cemburu , masih tentang itu.

"Saung pinter." terasa sejuk , nyaman dan mententramkan .bagi mereka yang hatinya tak terkoyahkan . bagiku ? Cukup tarik nafas panjang.. Sejak awal pembelajaran tak kudapati dirinya ceria , hanya senyum simpel saja itupun saat ada candaan yang SANGAT menggelikan . tak kurang dan tak lebih. Padahal biasanya tawanyalah yang paling nyaring . 'ada apa dengan dirimu ?' hingga saat waktu pulang tiba pun , aku mendapatinya sebagai si dingin . 'karena aku kah?' Dia berjalan pulang di barisan terdepan bersama 3 kawannya. Sedangkan ikhwan lainnya menghibur diri mereka dengan jajan terlebih dahulu. Sehingga aku dan akhwat lainnya terpaksa mendahului mereka

"Terus saja melaju , tak usah tengok belakang . aku baik-baik saja , anggap saja begitu jika kau masih mau menganggapku."

Aku merasa menjadi seseorang yang salah , 'tapi karena apa ?' kepada siapa pula aku harus bertanya. Dia berada di depanku ., langkahnya semakin cepat seperti tau saja kalau aku ada di belakangnya . atau memang jelas karena itu ? 'Kamu menghindariku?' jika itu membuatmu bahagia , silahkan saja. Punggungnya semakin menjauh .. Terus menjauh .. Sangat cepat dibanding langkahku .. Tak ada tengokan kepala , tak ada. "Sadar dah sadar... Sok ayeunamah leupaskeun.. Sing sadar Allah nu ngatur mah. Allah nu langkung uninga." soal cemburu itu ? Wajar saja...

" wanita memiliki kekuatan untuk menyembunyikan cintanya dalam jangka waktu lama , tapi ketika ia merasa cemburu kekuatan yang ia miliki tak ada apa-apanya , ia takan mampu memendamnya . karena telah menjadi hakikatnya. "

Toh si dia yang kucemburuipun tak kutaburi racun dalam makanannya . aku tak berani melakukan apapun , jikalau aku melakukannya pun tak akan ada faedahnya. Ditambah "aku pun bukan siapa-siapanya kamu soal janji-janji itu... Harapan itu.   Aku mencoba untuk diam saja , atau bahkan menghindar.


"Saling menghindar ? Tak mampu aku . senyummu mengalahkanku , tapi akan kucoba kembali."

"Tuh si ihsan sama viras ngambil apa.. ?" ima bertanya pada siapapun yang mendengarnya. Wulan dan denis langsung menuju objek , tatapan matanya saja. Akupun tak kalah .. Langsung mencari sumber jawaban , tapi karena posisiku kurang pas , tak kudapati apapun , juga siapapun. 'Heyy dah... Sadar.. Berhentilah memupuk harapanmu.'  hatiku berontak. Aku bingung , melihatnya merupakan suatu kebahagiaan ditambah seminggu kedepan merupakan ujian tahfidz yang akan mengurangi waktu bertemu , tapi itu tak boleh terus menerus ku lakukan .. 'Sudahlah...' aku tak boleh terus begitu.. 'Sudah dah.. Toh bukan kamu saja yang ia fikirkan .. Panitia haflah itu?'...

Akhirnya ku tundukkan kepalaku setunduk tunduknya. Aku tau dia lewat , aku melihatnya . tapi ku tundukkan kembali kepalaku . menghindar , secepatnya.

Bersih-bersih di rumah umi wildan , bersama ima , wulan , denis... Cari angin . "dah .. Ambil jemuran yuk !" ajak wulan . "yuk atuh , jemuran idahge banyak da." "bentar ya ma , nis.." "eh , ada siapa di lapang ?" tanyaku. "Anak mts lagi mulakamah sama ust zulfa ." "oh yuk atuh" kataku mantap setelah kutau tak ada senior di lapangan , intinya ya 'tak ada kamu' bukannya tak mau . hanya dalam rangka menjaga hati saja 'agar tak terlalu tersakiti ketika kau benar-benar pergi'


Benar saja , tak kudapati dia yang sedang kuhindari. Aku dan wulan pergi ke komplek akhwat ngambil baju kering di jemuran . karena pekerjaan di rumah umi wildan masih banyak , kami pun kembali secepatnya , untung saja kala itu hanya orang-orang yang daftar saja yang tampil di muhadloroh dan aku tak termasuk dari mereka sehingga aku dan pasukan 'kerja rodi' nama dari ustadz yasin .. Bisa santai . meski banyak pekerjaan kami sebut santai saja , setrikaeun , gerohaneun , dsb . lebih baik dari pada gak ada kerjaannya di mahad . dan nama kerja rodi itu rasanya lebih pantas di pakai saat program mahad yang sangat membosankan.

"Idah dulu lah.." wulan memaksaku untuk melangkah terlebih dulu . depan rumah ustadzah dila menuju tangga. 'Viras ?' ya .. Viras menjadi asisten ustadz zulfa . kunaiki tangga satu persatu dan ... Hhhhh ... Segera kupalingkan wajahku meski pandangan si baju cdm tak tertuju padaku . ku kontrol wajahku agar tak melirik siapapun saampai tujuan : pintu rumah umi wildan.

Wulan langsung membantu ima membereskan baju yang akan disetrika . aku menuju denis untuk mencuci piring . "dimana cuci piringnya?" Tanyaku . "terserah." "ada air gak disana ?" "kecil" "yaudah diluar aja."  Di luar ... ? Harus diluar ?? Jaga hatimu dah... Denis pun keluar , mulai mencuci piring-piring kotor , aku lebih memilih ngangkutan gerohaneun dari dapur keluar sehingga waktu mataku melihat dunia luar lebih terjaga . "nis idah beres-beres di dapur ya.." "ih atuh dah denismah gak mau sendiri."  aku harus diluar ? Hh bagaimana dengan hati ini ?? Bukannya tak mau , bukannya tak ingin bertemu . hanya takut saja.

Yasudahlah , akupun memutuskan untuk keluar . untung saja posisi latihan di puter balik , ustadz zulfa seperti mengerti sajaa apa mauku , atau memang ia mampu membaca hatiku ? :D Tak lama latihan pun usai.  Entah sedih atau pun senang , yang jelas terasa ada rasa baru : sunyi dan sepi . Dia mengambil jas coklatnya . tak terlalu jelas karena itu hanya akan menyakiti diriku sendiri . ustadz zulfa dan kawan-kawanku yang menjadi asisten beliau meninggalkan lapangan . kembali ke komplek . mungkin.

"Euh mani pada lewat sana ." aku memvuka pembicaraan pada denis . ustadz zulfa dkk pulang bukan jalan depan kami . 'ada apa gerangan?' mereka lebih memilih jalan yang lebih jauh . 'kamu menghindar..?' dan disabtu inilah tak kudapati senyumnya , sampai sore itu. "Sudahlah tak apa.. Lagiankan idah harus melupakannya. Melupakan ?

" kedah ayeuna wae ieuteh.. ?" mendengaarnya serasa menjadi yang paling bahagia saja . dah ... Sadar... Itu dulu...

"Dah.." denis menyadarkanku dari lamunan-lamunan itu. Tanpa sadar , segerombolan ustadz zulfa melewati jalan depanku . 'ternyata tadi tuh abis dari ppj.' masih dalam suasana menghindar.. Masih cuci piring juga. Tak lama .

"Dah ... Biasa atuh biasa mani dianteur kitu.. " aku tak mengerti dengan kalimat denis itu. Ia mengulanginya berkali-kali. Trek... Dia tersenyum berjalan bersama ade kelas yang mungkin ia paksa  untuk menemaninya hanya untuk mengambil sebuah anduk. 'Ternyata kamu , tapi kenapa mesti tersenyum ?' senyum yang indah . karena sejak pagi tadi aku tak mendapatkannya.

"Euh mani dianteur , cuman kesana doanh ." ledek denis.. Dia si jas coklat tersenyum kembali , aku pun tak mampu mengalihkan mataku dari tatapan juga senyumnya.

Kamu berlalu tapi setelah memberiku obat rindu , dia melangkah kan kakinya ......... Dan mundur kembali.. "Eh iya .. Sekaliam baju saya."katanya sambil tersenyum kembali . 'bagaimana mungkin aku mampu menghindar .. Aku tak mampu.'


Hingga pada akhirnya aku tak tau harus bagaimana . tatapannya ketika aku izin kala muhadloroh ...  Tapi cemburu itu tetap membeku. Sebenarnya bukan hanya tentang crmburu , tapi rasa takut kehilangannya. Khawatir.. " bukan kamu yang perlu khawatir , tapi aku . gimana coba kalo kamu diambil duluan sama yang lain ." cukup menghibur.. Meski tetap selalu terkalahkan ddengan suara jelasnya . "ari............ Gimana orangnya? Kreatif gak ? Gimana. Kalo jadi bagian acaraa ?"





Semuanya milik allah
Parakanpanjang, 18 november 2017

The beloved Winner

Allah memang tak pernah salah ketika memberikan yang terbaik bagi hambaNYA. Yang tua ataupun yang muda ... Yang miskin ataupun yang kaya .. Semuanya sama , mendapatkan yang tetbaik dariNya. Entah berupa rizki ... Hidayah... Atau bahkan jodoh srkalipun

"Hey .. Bangun ... Udah adzan" satu suara membangunkan kami. Suara yang tak dirindukan kehadirannya. Aku memaksa diriku untuk bangun dari baringanku . 'ahh.. Rasanya sangat lelah' gerutuku. Setelah si pembangun pergi ku letakkan kembali tubuhku di atas bantal milik..... Entahlah.

"Kak .. Bangun kak ! Udah siang.." aku membuka mataku dengan spontan "astagfirullaha'adzim, belum shalat shubuh." aku bergegas mengambil air wudlu dan melaksanakan shalat shubuh. " jadi gak lomba tuh?" tanyaku. " gatau dah.. Belum ada keputusan." tak lama setelah percakapan singkat itu .. Aku dan mereka yang bernyawa di kamarku kembali ke dunia mimpi kami masing-masing.

" yang ikut aksioma kumpulan...!" teriak seorang ustadzah dari luar kamar. Lomba ? Jadi ? Aku bergegas keluar kamar , menuju sumbet suara. " sekarang kalian siap-siap. Nanti jam tujuh kita berangkat." . aku segera menuju kamar mandi , tiga hari di tempat yang tak dikenal dibawah naungan acara ekstreme bernama mukhoyyam memaksaku untuk berpantas diri untuk membersihkannya sehingga mau tak mau dihari ke 4 itu aku harus melakukannya jika tak ingin kotornya badanku bertambah karena keringat yang di prediksikan akan banyak bercucur pada hari itu.

Sepertinya aku tak terlalu bersemangat untuk mengikuti lomba. lomba tenis meja. Aku terpilih bukan karena aku seorang atlet , bukan karena aku mahir melakukannya bukan pula karena aku berpengalaman lomba tingkat nasional , bukan. Mungkin allah menakdirkanku untuk tau bahwa aku terpilih  karena hanya akulah yang agak bisa se-MA Nurul Iman putri. Ya ... Agak bisa.

Berbeda dengan mereka-mereka yang bersemangat untuk mengharumkan sekolah , apalagi yang telah bertahun-tahun hidup dididik disini. Akupun bukan tak mau , hanya sadar akan kemampuan saja. Meskipun sudah dilatih selama 2 minggu kemarin , itupun hanya dalam rangka mengingat kembali saja setelah 2 taun disini tak melakukannya. Tak lebih.

Upacara pembukaan digelar. Duta-duta sekolah negri dan swasta berkumpul disana . semuanya sama : berkeinginan untuk menjadi yang terbaik. Tapi apalah daya  se-seri apapun pertandingan tetap yang menjadi juara satu ya hanya satu..

Setelah upacara , kami para itusan MA nurul iman dikumpulkan terlebih dahulu . ustadz zulfa selaku pembimbing memberikan wejangan dan pesan singkat sekaligus memimpin do'a . "lakukanlah yang terbaik.." tarik nafas panjang terdengar olehku, entah siapa saja yang melakukannya. Mungkin aku pun tak perlu tau.

Aku segera pergi menuju ruang tanding bersama kawan mainku , irsyad dan didil dibimbing oleh ustadz imad . Disana telah hadir peserta-peserta lain . " jago sekali mainnya. " kreteg hatiku saat pemain asal cipasung latihan . sangat perfect. Dan aku ? Ahhh rasanya lebih baik aku mundur . aku pun benar-benar pergi meninggalkan ruangan itu menuju kantin.

" dah.. Maen !" irsyad berteriak sambil melambaikan tangannya ke arahku. Maen ? Katanya masih lama.. Euh gerutuku. Aku segera berlari dan membuang makanan yang ada di tanganku. Tiba-tiba kulihat dia di lorong antara kelas-kelas mengenakan seragam putih-abu. Ikutan ? Aku tersenyum . "ikut kaligrafi mungkin" sangkaku setelah melihat penggaris di tangannya.

"Semangat didah.. !" kata ikhwan yang ada di sana. Ikhwan disini , ikhwan yang sesekolah denganku yang hadir di tempat lomba , maksudnya. Rada deg-degan juga . padahal lawan tak terlalu sulit. Maklum masih babak penyisihan. Hingga akhirnya aku lolos.

"Euh.. Hebat kak didah , barokah tahajud." sapa syahid di pintu , anak pimpinan ponpes Nurul iman. "Lawan na ganas finalmah." kataku. "Insya allah lah nu sok tahajudmah." tahajud ? Aduh... Harusnya memang begitu , tapi untuk pagi itu boro-boro tahajud , shubuh juga kesiangan. Karena tak mampu menjawab apa-apa akupun hanya tersenyum dan melangkahkan diriku menuju tempat pertandingan badminton. Tentunya setelah aku mendengar jelas bahwa " babak selanjutnya akan dilaksanakan ba'da dzuhur." PJ tenis meja selaku wasit mengabari kami.

"Duh .. Juara eung. " kak epul menoleh ke arahku.  " belom ge belom." kataku sambil berlalu ke mushola karena waktu dzuhur sudah dekat. Kudapati Anifa teman sealmamaterku masih bergelut dgn pensil , spidol dan objek kaligrafinya. 'Tapi kemana ikhwannya ya?' tanyaku dalam hati sambil mencari ke tiap sudut mesjid. ' oh dia udah di mesjid' . akupun memutuskan untuk berwudlu dan memasuki masjid. Karena adzan sudah betkumandang sejak tadi para musholi pun shalat dengan munfarid , termasuk ia ; sang kaligrafer .aku memposisikan diriku tepat di belakangnya , tanpa niat yang tidak-tidak. Hanya kebetulan saja itu adalah tempat kosong yang tersisa. Tak lebih.

" bantulah aku ya rabb.." akupun shalat , munfarid . ' bisakah aku khusyu dalam keadaan seperti ini?' tepat ketika aku bangun dari sujudku ia sang kalirafer salam terakhir. ' jangan sampai aku meliriknya...' sejak tadi hatiku demo , tapi apalah daya aku gagal menegakkan prinsipku. Dan trek.. 'Maafkan hambamu ya Rabb' kulanjutkan shalatku. Dia yang sudah menyelesaaikan dzuhurnya masih dalam keadaan diam dalam duduknya hingga akhirnya ia bangun . 'mungkin akan melanjutkan kompetisinya' kiraku.. Tapi... "Allohuakbar.."

Ia shalat rawatib .. 'Ah.. Dirimu , selalu selalu saja membuatku malu' . dalam keadaan seperti ini , ketika kompetisi betlangsung ia masih menyempatkan waktu untuk shalat sunnah , kompetisi berwaktu pula. Aku tau kaligrafi yang ia bikin belum selesai . ketika orang lain masih sibuk dengan alat-alat kaligrafinya untuk menjadi yang terbaik , ia pergi lebih awal meninggalkan semuanya untuk menghadapNYa , ketika yang lain cepat-cepat kembali pada sibuknya serelah salam dari shalatnya ia tetap dalam duduknya dan berdiri untuk menegakkan sunnahnya.

"Ya allah.. Aku meminta yang terbaik.." doaku. Akumalu.. Aku lolos ke babak selanjutnya , tidak lain hanya karenaNYA. Dan aku tak mampu lagi meminta apapun. Aku malu , inginku menjadi yang terbaik , tapi shalat sunnah rawatibpun masih enggan , apalagi dalam keadaan seperti ini . ingin ku masuk final , tapi shalat tahajufpun ku tinggalkan , bahkan shubuhku kesiangan . "tak pantas jika doa-doaku KAU kabulkan , ya Rabb." hingga akhirnya akupun pasrah. Apapun yang terjadi aku siap menerimanya.

Karena aku sadar , bahwa pemenang sesungguhnya bukan dia yang jago smash .. Bukan dia yang tinggi nilainya bukan dia yang selalu lolos dalam pertandingan .. Bukan. Tapi dia yang tersibukkan dunianya tanpa melupakanNYA dan selalu mengutamakanNYA , dimanapun , kapanpun dalam keadaan bagaimanapun.
"Thanks friend , I get a inspiration from you."

Parakanpanjang , 22 januari 2017
(Acuy n didan 's birthday)