Selasa, 23 Juli 2019

Cerita Hari Rabu


" Gimana nih ? Terusin gak?" Tanyaku pada syara dan Nida, yang kala itu tengah makan bersamaku sesuatu pagi.
"Udah ah, terusin aja. Lagian kan udah izin." Jawab syara sambil makan telur lauk pagi itu.
Sedikit deg-degan takut ustadz Nanang Marah seperti peristiwa beberapa bulan yang lalu , beliau tidak memasukkan siswi kelas 4 karena telat.
"Aisyah, kamu kenapa ikut2an telat? Bukannya udah berangkat dari tadi pagi?" Tanya Mailan di depan kelas. Aisyah hanya tersenyum. Kita yang di luar mencoba ngintip selama pelajaran berlangsung sampai setengah jam. Nelangsa memang. "Masukk..!" dengan suara tegasnya, kita masuk dalam rangka taat perintah sang guru. "Kenapa kalian telat?" suaranya keras, matanya melotot. "Harusnya ......... Blablabla"

"Ohok ohok.. " Suara batuk Nida yang sedari tadi khusyu makan menyadarkan bayangan hitam. Gelap. Masa itu.
 "Yuk ah ke kelas.." ajak ku.
"Entar dulu, kalo telor ini abis ." sela Syara sambil memegang sepotong telor goreng.
Nida sibuk mencari cangkir karena gak kuat pengen minum. Keselek.

"Nid, te.. Hayya.." ajakku. 'Lah ? Kenapa ustadz Nanang nya malah pergi ya?' tanyaku dalam hati. ' oh mungkin bukunya ketinggalan' kataku lagi, mencoba menenangkan hati.


Sesampainya di kelas yang hanya berjarak 15 meter dari kamar, aku Nida dan syara langsung menuju bangku kosong. "Eh kemana ustadz nanang nya?" tanya nida pada teman yang sedari tadi sudah standby di kelas, sambil grusak grusuk.
"Marah kali, soalnya gaada spidol." jawab Nada agak cuek. Nida sebagai sekretaris kelas bergegas pergi dengan aisyah untuk mengambil spidol, mungkin.
"Nad ? Emang tadi ustadz nanang nanyain spidol ya?" tanyaku. Nada melirik sambil mengangguk. Cukup kesal, masa gara2 spidol aja marah. Tiba tiba..

"Eh, jangan-jangan ustadz nanang marah karena kalian pada telat lho.." kata aisyah yang baru datang. Diikuti nida dibelakang nya dengan menenteng spidol snowman.
Ima , Rita, wulan serempak melirik aisyah.  "Oiya bisa jadi." cetus ima. "Cepet susul ke rumahnya."

Syara dan Mailan segera pergi meninggalkan kelas. Ramainya kelas menutupi kekhawatiranku, tapi hatiku makin cemas, terlebih aku adalah tokoh dalam cerita ini, ya aku yang telat di hari itu.

"Tuk, tuk , tuk.. " suara sepatu. Mataku segera menuju pintu, berharap Mailan syara segera kembali, huh ternyata teman laki2 ku. Sekelas. Aku kembali ke tempat duduk.
Waktu terasa lebih lama, datanglah syara dan Mailan . 'lah kok wajahnya pada luyu sih, jangan jangan...'

"Gimana mei..?" tanya nada. "Ustadznya marah, soalnya kita pada telat." syara yang jawab. Mailan kelihatan ingin berbicara , "kenapa mei?" tanya aisyah, mengerti ekspresi Mailan. "Kata ustadz Nanang kita kaya yang gak butuh ilmu aja, terus langsung nutupin pintu." suara Mailan semakin lesu. "Jadi gimana?"
"Kasih tau ikhwan, abis itu kita ke rumahnya. Minta maaf."
Syara yang paling pemberani diantara kita langsung memberi tau ikhwan.(teman laki2)
"Syara sih telat." kata salah satu ikhwan.
"Lah, kan kamu juga telat." jawabnya.
"Kita cuma telat bentar, kamu malah makan dulu."

Akhirnya, pasukan kami yang terdiri dari beberapa siswi segera pergi meninggalkan kelas menuju rumah ustadz Nanang. Belum sampai tujuan, aku dan teman2 bertemu virus dan ismail . "Gak ada ustadz nya juga." kata viras dengan gugup karena bertemu segerombol siswi. "Ah masa? Di rumahnya gak ada?" Tanya Syara. Viras dan ismail saling lirik sambil angkat bahu dan tangan nya. "Gak tau, kayanya nggak."


"Assalamualaikum.." deg2an juga, aku ,Ima dan Nida mencoba salam di depan rumahnya. Sedangkan Nada ,syara dan teman2 yang lain mencari di kantor.
"Assalamualaikum.." salam ke dua. Masih tak ada jawaban. Cemas, takut beliau benar2 marah dan tak mau membimbing kami lagi.
"Assalamualaikum.." salam terakhir. Makin deg2an. Antara takut ada dan takut gak ada. Jika ada mungkin kami kena marah, kalau gak ada , ah sungguh malangnya nasib murid seperti kami yang masih minim ilmu ditambah kena marah sang ustadz belum sempat minta maaf.
"Krek.." pintu terbuka. deg... Aku menundukan kepala. Teman2 yang dari tadi sudah berada bersamaku pun tanpa komando dan isyarat sama. Menundukan kepala.


"Waalaikumussalam.." suara wanita. Reflek mata kami menuju sumber suara.
"Ustadz nya ada , ustadzah?" tanya aisyah . Ternyata ustadzah Lulu, istri ustadz Nanang.
"Nggak ada, bukannya lagi ngajar ?"
 aku dan teman-teman mencoba menceritakan yang sesungguhnya. Sedikit malu juga.
"Hmm gituuu.... Kalian sih ada2 aja.."
"Ih .. Kan gimana lagi ustadzah."
"Coba cari di kantor.. Di rumah mah gak ada dari tadi juga."
" gak ada ustadzah."



"Terus kita gimana nih.?"
"Yaa gimana lagi, diemin ajalah."
" kayanya ustadz nanang mau ngasih kejutan buat kita..sambil bawa kue."
Semua tertawa.. "Iya iya bisa jadi.. Terus sambil nyanyi happy birthday to you..." lanjut Nada, sambil menggoyangkan badannya. Kami makin tertawa.


"Hehhh, kalian kenapa malah ketawa sih..?" bentak syara yang sedari tadi memang tak ikut gabung. Tawapun terhenti. Hening.
"Kalian mikir gak sih..? Ustadz Nanang tuh guru, ustadz, doanya mustajab." syara marah. Kami tertunduk. "Kalian kaya yang gak punya salah aja." syara benar, kami semakin diam. Apa yang di katakannya emang betul, sangat. "Gimana coba kalo ustadz doain kita yang nggak2."
"Jangan suudzon lah.."
" Bukannya suudzon, tapi orang yang sakit hati itu biasanya susah mengontrol dirinya. Ingat, menumbuhkan kepercayaan tak semudah meruntuhkannya."


Semua terdiam. Termasuk aku. Aku yak tau apa yang ada dalam fikiran teman2ku, entah rasa sesal atau hanya menghargai yang berbicara. Yang jelas aku bertekad untuk meminta maaf lagi dan tidak pernah mengulanginya lagi. Begitupun mereka,mungkin.




Kejadian ini berlangsung pada hari rabu tgl 2 maret 2016.
Cerita ini ditulis di buku pada tanggal 3-4 Maret 2016. Pas waktu aku kelas X aliyah.
Kurang lebih ceritanya seperti itu, aku hanya menyalin dari buku. Dan ceritanya sudah agak lupa.


Terimakasih Ustadz engkau masih bersedia mengajar dan membimbing kami sampai kami lulus.
Semoga Allah senantiasa memberimu kesehatan dan keberkahan hidup.
Semoga Allah membalas semua kebaikanmu.
"جزىك الله خيرا كثيرا... جزىك الله أحسن الجزى"
Ustadz Nanang Iskandar. Almukarrom.

3 komentar: