Kamis, 25 Juli 2019

Kembali

Aku sadar bahwa aku harus benar-benar menerima dan mengikhlaskan.
Rasanya tak bisa jika aku harus terus menyimpan rasa untuk 5 tahun bahkan 6 tahun kedepan ..
Bukan karena tak mampu mempertahankan cinta..
Aku hanya malu, mempertahankan yang belum pasti. Jelas itu sangat belum pasti. Apalagi jika hanya membuatku lupa pada-Nya.


######

Kau genggam erat tanganku. Malu-malu. Baru saja terlaksana akad pernikahan. Bagaimana aku percaya , karena sebelumnya kita sudah menentukan pilihan yang cukup sulit untuk mendamaikan rasa. Mengembalikan seperti semula. Kau memilih untuk melanjutkan study di pondok pesantren. Dalam jangka waktu yang cukup panjang, padahal  sudah beberapa  kali aku meyakinkanmu bahwa pilihan itu akan sangat sulit, terkhusus bagiku. Aku bukan memilih melanjutkan kuliah, tapi kamu yang memilih, dan aku mengikuti saja. Karena saat aku ditawarkan untuk menikah dengan lelaki yang jelas bukan kamu, aku benar2 enggan.  Hanya ingin kamu. Tapi semuanya terlambatkan ? Yaa kamu sudah menentukan jalanmu. Tanpa peduli hatiku ? Salahkah jika aku berbicara seperti itu? 
Tapi di hari itu........ 

Kau memandangku dari jauh. Pandangan mesra, sangat. Kau tersenyum . Aku ingin segera mengabarkan sahabatku bahwa kau telah menjadi milikku, dalam ikatan yang sah. 
Sederhana acaranya. Aku sangat bahagia. Seperti menemukan lagi sesuatu yang paling ku sayang yang telah lama hilang. Kau masih memandangku, dengan sedikit malu aku membalas tatapan mu, kau tersenyum lagi. 


Aku masih belum percaya dengan semua itu. 
'Apakah aku sedang bermimpi..?' 
Tak ada yang menjawab. Aku berfikir kerasssss. Karena aku ingat beberapa hari yang lalu, kita chatting  bahwa kamu sudah di pesantren barumu dan kamu sedang izin kala itu. Ke warnet . Kamu juga sedikit bercerita tentang itu. Pas jam set 12 kamu pun pamit, untuk segera pulang ke pesantren lagi agar tidak telat shalat dzuhur.katamu. 



######

Benar saja. Aku terbangun dari tidurku.
Untuk yang ke berapa kalinya.. Yaa memimpikanmu bukan hal yang langka . terbilang cukup sering.
Tapi tiap Aku terbangun, selalu kaget...
Segera ku sadarkan diriku bahwa itu hanya sekedar mimpi..
Ku yakinkan diriku bahwa itu semua tak nyata.. Kau tidak membatalkan pilihanmu. Kau berada di pondok pesantren. Kau telah pergi. Dan kembalinya engkau , tidak dapat kupastikan.
Hanya bunga tidur.. Aku takut diriku kalah.. Tapi syukurlah, aku mampu sadar.
Aku hanya tersenyum.
Mimpi indahkah ini?


Aku tidur lagi..


######

Aku akan pergi mengantarkan kawanku, dinan rita ima ... tapi tak ada kendaraan yang bisa ku pakai, hanya mobil milik kak Alya. Beliau sedang melanjutkan study di turkey dan menitipkan mobilnya padaku. 
Akhirnya, kami pergi dengan itu. Di supiri oleh melisa. Tetanggaku. Tapi ikut, hanya sebentar. 

Aku meminta izin untuk pergi ke jakarta, bersama ima, zidan, tania, nopi ,kamu dan entah siapa lagi. 
Tadinya aku akan pergi dengan sepeda motor. Tapi ada sesuatu yang membuat ku malah tak jadi pergi. Dan aku lupa apa itu.


Aku kembali lagi ke rumah. 
Membantu ngpak makanan di pabrik , keripik kentang dan cilok. Tapi aku gatau 
Milik siapa pabrik itu. 


Ada sesuatu yang jatuh. Aku akan mengambilnya. Saat ku melihat ke depan rumah tetanggaku, mang anda. 
Kau ada disana. Sedang apa ? Ku yakinkan kembali. Ia benar. Kau disana. Aku melihatmu, tapi tidak denganmu. 
Aku melanjutkan mencari saledri. 


Ada pesan masuk. Darimu. Kita chat banyak, aku mengarahkan pandangan pada dirimu. Jarak kita tidak dekat, tidak juga terlalu jauh.kau mengirimkan fotoku. Ternyata dari tadi kau memperhatikanku.
Kau tersenyum lagi. Dari jauh. Aku membalas senyummu.
"Ini bukan mimpikan ?" tanyaku di chat. 
"Bukan, " katamu. Kamu menceritakan tentang perjalanan menuju ikatan halal tersebut, dengan sangat yakin. Ya kita sudah menikah. "Aku sudah tidak mondok lagi." katamu. Kamu terus bercerita hingga aku benar2 percaya.


Masih dengan jarak yang sama, ah kala itu aku masih sangat bahagia. Percaya tak percaya.  Aku ingin bilang bahwa aku sangat merindukanmu selama kamu di pesantren kemarin. Aku ingin bertanya , kalau sudah menikah tidak apa kan kalau aku merindukanmu. Tidak salah kan? 

"Am I wrong if I Miss you..?" tulisku untukmu . Di pesan, entah apa, tapi kurasa bukan whatsapp. 
Aku memikirkan kata tersebut.. 
Am I wrong if I Miss you ? 
Apakah aku salah jika aku merindukanmu ?
Untuk suami istri , itu tidak salah. Bisa jadi ibadah. Ya kamu sudah resmi menjadi suamiku.
Belum sempat kamu membalas. 


######



Aku terbangun lagi , aku tersenyum lagi. Ternyata aku memimpikan mu untuk yang kedua kalinya. Di malam yang sama.
Segera ku ambil gadget milikku, dan kutulis semuanya. Seingatku saja. 

Sekarang aku sadar bahwa yang kualami barusan benar2 mimpi. Sekedar mimpi. Sekuat apapun kau meyakinkanku . 
Semoga kau baik-baik saja , disana. 
Aku mau shalat dulu, aku ingin mengadu, bahwa nyatanya aku rindu. 
Maaf . aku rindu kamu.lagi.

Jum'at, 26 Juli 2019.
Tahajud.
Istikharah

4 komentar: