Senin, 25 Desember 2017

Si Dia di Sabtuku

"Harapan itu selalu ada , baik sang objek menyadarinya atau tidak ."

Aku terlalu semangat untuk menghadapi hari ini , hari yang kutunggu sejak seminggu lalu . karena ada suatu hal tentunya . "insya allah minggu besok kita belajar di saung pinter, sekalian botram." janji seorang guru padaku daan teman se-ku. Bagi kami ini merupakan hal yaang sangat membahagiakan , jelas .. Karena kami bisa merasakan nikmatnya pemandangan luar , angin luar , bisa menghirup oksigen luar intinya bisa keluar daari penjara suci. Itu saja.

"Laper.." pekik ima , memang akhir-akhir ini dia dan shogoir kelas XII makan melebihi porsi wajarnya, jadi dimaklum saja saat pagi menuju siang yang seharusnya sudah pada makan mereka merasa lapar karena khusus untuk pagi ini kita , yang merasa lapar khususnya menahan perutnya terlebih dahulu. "Jajan ka umi yu daah.. Gak kuat ima mah." "yuk atuh" jawabku setelah aku dan dirinya membersihkan ruang kelas , bukan jadwal piket memang , tapi menguatkan kesadaran saja "kalau bukan kami ya siapa lagi." karena jika yang kita lakukan hanya saling menyalahkan mungkin takan pernah terselesaikan . kelaas gak bersih , guntreng tak henti.

Aku dan ima mengambil kresek masing-masing , "son .. Tuh idah" ledek salahsatu teman ikhwanku pada seseorang yang sejak tadi diam didepan mesjid. Aku ? Pura-pura tak dengar saja , meski keinginan sebenarnya ya bukan begitu . tapi untungnya aku sadar jika aku membalas ledekannya atau terjanjung akannya itu hanya akan mempersulit keadaan.

Sesampainya di kelas kudapati 90% dari temanku bak warga somalia , kelaparan. "Yuk ah makan aja sekarang." "terus botramnya gimana dong?" "ah.. Gapapalah , makan aja yuk." hmm.. Aku tak terlalu tertarik untuk berpihak pada si lapar atau si teguh pendirian . "udah entar makannya kan mau botram . kasian ustadz" karena memang sudah tak mampu manahan akhirnya merekapun makan. Seluruhnya , termasuk si teguh pendirian.

Tak lama setelah itu , ustadz datang ke kelas bersama ikhwan sekelasku. "Buka sepatunya..!" teriak dinan. Ihsan masuk dengan melepas alas kakinya dan duduk di bangku depan sebelah kanan. Tapi , seperti ada sesuatu yang hilang darinya , dia yang biasanya ceria terutama pelajaran ust rusydie.. Aku kehilangan senyumnya. Entah karena sepatu yang harus dilepas sesuai dengan perintah paksa dari dinan , entah karena aku. Mengapa harus aku ? Entahlah..

Setelah dipastikan saung pinter busa dukunjungi , ikhwan berjalan meninggalkan kelas lebih awal. 'Kamu kenapa ? Marah sama aky ?' tanya hatiku. 'Kalau marah , karena apa?' tanyanya kembali pada dia yang duduk di kursi depan rumah sebrang pesantren , tapi tak bisa didengar siapa-siapa. Sunyi dihatiku saja .

'Adakah aku yang salah ? Karena apa ? Karena aku tak sesempurna yang kamu bayangkan ? Karena aku tak sebaik yang kamu angankan ? Atau karena dia yang namanya kau sebut -sebut saat penentuan panitia haflah? Dia yg sungguh sempurna nan mempesona ? Dia yang jauh dari kekurangan ? Dia .. Yang membuatku menjadi seseorang yang lemah.. Rapuh... Hanya karena kamu menyebutkan namanya agar masuk pasukanmu, agar bisa bersama ? Begitukah ? Lalu apa arti semua kata-katamu kemarin ?  Apa arti harapan yang selalu ku tangguhkan ? Apa... Seharusnya kamu tak perlu memberiku kebahagiaan , agar aku tak perlu menangguhkan harapan. Tak perlu kamu mengeluarkan kata-kata indahmu.. Tak perlu. Agar ketika aku kehilangan mu , tak perlu aku mengenangmu , tak ada lagi hatiku yang tersakiti karena melelehnya janji mu. Agar aku tak terlalu rapuh.'

Ustadz mengendarai sepeda motor nya , kita berjalan di tengah hamparan sawah. Sehingga sejauh apapun jarak ikhwan dgn akhwat , tetap saja terlihat. 'Kamu yang terlihat , kamu dengan tas reimu' aku tak tau mengapa mata ini selalu tertuju pada mu meski dibumbui cemburu , masih tentang itu.

"Saung pinter." terasa sejuk , nyaman dan mententramkan .bagi mereka yang hatinya tak terkoyahkan . bagiku ? Cukup tarik nafas panjang.. Sejak awal pembelajaran tak kudapati dirinya ceria , hanya senyum simpel saja itupun saat ada candaan yang SANGAT menggelikan . tak kurang dan tak lebih. Padahal biasanya tawanyalah yang paling nyaring . 'ada apa dengan dirimu ?' hingga saat waktu pulang tiba pun , aku mendapatinya sebagai si dingin . 'karena aku kah?' Dia berjalan pulang di barisan terdepan bersama 3 kawannya. Sedangkan ikhwan lainnya menghibur diri mereka dengan jajan terlebih dahulu. Sehingga aku dan akhwat lainnya terpaksa mendahului mereka

"Terus saja melaju , tak usah tengok belakang . aku baik-baik saja , anggap saja begitu jika kau masih mau menganggapku."

Aku merasa menjadi seseorang yang salah , 'tapi karena apa ?' kepada siapa pula aku harus bertanya. Dia berada di depanku ., langkahnya semakin cepat seperti tau saja kalau aku ada di belakangnya . atau memang jelas karena itu ? 'Kamu menghindariku?' jika itu membuatmu bahagia , silahkan saja. Punggungnya semakin menjauh .. Terus menjauh .. Sangat cepat dibanding langkahku .. Tak ada tengokan kepala , tak ada. "Sadar dah sadar... Sok ayeunamah leupaskeun.. Sing sadar Allah nu ngatur mah. Allah nu langkung uninga." soal cemburu itu ? Wajar saja...

" wanita memiliki kekuatan untuk menyembunyikan cintanya dalam jangka waktu lama , tapi ketika ia merasa cemburu kekuatan yang ia miliki tak ada apa-apanya , ia takan mampu memendamnya . karena telah menjadi hakikatnya. "

Toh si dia yang kucemburuipun tak kutaburi racun dalam makanannya . aku tak berani melakukan apapun , jikalau aku melakukannya pun tak akan ada faedahnya. Ditambah "aku pun bukan siapa-siapanya kamu soal janji-janji itu... Harapan itu.   Aku mencoba untuk diam saja , atau bahkan menghindar.


"Saling menghindar ? Tak mampu aku . senyummu mengalahkanku , tapi akan kucoba kembali."

"Tuh si ihsan sama viras ngambil apa.. ?" ima bertanya pada siapapun yang mendengarnya. Wulan dan denis langsung menuju objek , tatapan matanya saja. Akupun tak kalah .. Langsung mencari sumber jawaban , tapi karena posisiku kurang pas , tak kudapati apapun , juga siapapun. 'Heyy dah... Sadar.. Berhentilah memupuk harapanmu.'  hatiku berontak. Aku bingung , melihatnya merupakan suatu kebahagiaan ditambah seminggu kedepan merupakan ujian tahfidz yang akan mengurangi waktu bertemu , tapi itu tak boleh terus menerus ku lakukan .. 'Sudahlah...' aku tak boleh terus begitu.. 'Sudah dah.. Toh bukan kamu saja yang ia fikirkan .. Panitia haflah itu?'...

Akhirnya ku tundukkan kepalaku setunduk tunduknya. Aku tau dia lewat , aku melihatnya . tapi ku tundukkan kembali kepalaku . menghindar , secepatnya.

Bersih-bersih di rumah umi wildan , bersama ima , wulan , denis... Cari angin . "dah .. Ambil jemuran yuk !" ajak wulan . "yuk atuh , jemuran idahge banyak da." "bentar ya ma , nis.." "eh , ada siapa di lapang ?" tanyaku. "Anak mts lagi mulakamah sama ust zulfa ." "oh yuk atuh" kataku mantap setelah kutau tak ada senior di lapangan , intinya ya 'tak ada kamu' bukannya tak mau . hanya dalam rangka menjaga hati saja 'agar tak terlalu tersakiti ketika kau benar-benar pergi'


Benar saja , tak kudapati dia yang sedang kuhindari. Aku dan wulan pergi ke komplek akhwat ngambil baju kering di jemuran . karena pekerjaan di rumah umi wildan masih banyak , kami pun kembali secepatnya , untung saja kala itu hanya orang-orang yang daftar saja yang tampil di muhadloroh dan aku tak termasuk dari mereka sehingga aku dan pasukan 'kerja rodi' nama dari ustadz yasin .. Bisa santai . meski banyak pekerjaan kami sebut santai saja , setrikaeun , gerohaneun , dsb . lebih baik dari pada gak ada kerjaannya di mahad . dan nama kerja rodi itu rasanya lebih pantas di pakai saat program mahad yang sangat membosankan.

"Idah dulu lah.." wulan memaksaku untuk melangkah terlebih dulu . depan rumah ustadzah dila menuju tangga. 'Viras ?' ya .. Viras menjadi asisten ustadz zulfa . kunaiki tangga satu persatu dan ... Hhhhh ... Segera kupalingkan wajahku meski pandangan si baju cdm tak tertuju padaku . ku kontrol wajahku agar tak melirik siapapun saampai tujuan : pintu rumah umi wildan.

Wulan langsung membantu ima membereskan baju yang akan disetrika . aku menuju denis untuk mencuci piring . "dimana cuci piringnya?" Tanyaku . "terserah." "ada air gak disana ?" "kecil" "yaudah diluar aja."  Di luar ... ? Harus diluar ?? Jaga hatimu dah... Denis pun keluar , mulai mencuci piring-piring kotor , aku lebih memilih ngangkutan gerohaneun dari dapur keluar sehingga waktu mataku melihat dunia luar lebih terjaga . "nis idah beres-beres di dapur ya.." "ih atuh dah denismah gak mau sendiri."  aku harus diluar ? Hh bagaimana dengan hati ini ?? Bukannya tak mau , bukannya tak ingin bertemu . hanya takut saja.

Yasudahlah , akupun memutuskan untuk keluar . untung saja posisi latihan di puter balik , ustadz zulfa seperti mengerti sajaa apa mauku , atau memang ia mampu membaca hatiku ? :D Tak lama latihan pun usai.  Entah sedih atau pun senang , yang jelas terasa ada rasa baru : sunyi dan sepi . Dia mengambil jas coklatnya . tak terlalu jelas karena itu hanya akan menyakiti diriku sendiri . ustadz zulfa dan kawan-kawanku yang menjadi asisten beliau meninggalkan lapangan . kembali ke komplek . mungkin.

"Euh mani pada lewat sana ." aku memvuka pembicaraan pada denis . ustadz zulfa dkk pulang bukan jalan depan kami . 'ada apa gerangan?' mereka lebih memilih jalan yang lebih jauh . 'kamu menghindar..?' dan disabtu inilah tak kudapati senyumnya , sampai sore itu. "Sudahlah tak apa.. Lagiankan idah harus melupakannya. Melupakan ?

" kedah ayeuna wae ieuteh.. ?" mendengaarnya serasa menjadi yang paling bahagia saja . dah ... Sadar... Itu dulu...

"Dah.." denis menyadarkanku dari lamunan-lamunan itu. Tanpa sadar , segerombolan ustadz zulfa melewati jalan depanku . 'ternyata tadi tuh abis dari ppj.' masih dalam suasana menghindar.. Masih cuci piring juga. Tak lama .

"Dah ... Biasa atuh biasa mani dianteur kitu.. " aku tak mengerti dengan kalimat denis itu. Ia mengulanginya berkali-kali. Trek... Dia tersenyum berjalan bersama ade kelas yang mungkin ia paksa  untuk menemaninya hanya untuk mengambil sebuah anduk. 'Ternyata kamu , tapi kenapa mesti tersenyum ?' senyum yang indah . karena sejak pagi tadi aku tak mendapatkannya.

"Euh mani dianteur , cuman kesana doanh ." ledek denis.. Dia si jas coklat tersenyum kembali , aku pun tak mampu mengalihkan mataku dari tatapan juga senyumnya.

Kamu berlalu tapi setelah memberiku obat rindu , dia melangkah kan kakinya ......... Dan mundur kembali.. "Eh iya .. Sekaliam baju saya."katanya sambil tersenyum kembali . 'bagaimana mungkin aku mampu menghindar .. Aku tak mampu.'


Hingga pada akhirnya aku tak tau harus bagaimana . tatapannya ketika aku izin kala muhadloroh ...  Tapi cemburu itu tetap membeku. Sebenarnya bukan hanya tentang crmburu , tapi rasa takut kehilangannya. Khawatir.. " bukan kamu yang perlu khawatir , tapi aku . gimana coba kalo kamu diambil duluan sama yang lain ." cukup menghibur.. Meski tetap selalu terkalahkan ddengan suara jelasnya . "ari............ Gimana orangnya? Kreatif gak ? Gimana. Kalo jadi bagian acaraa ?"





Semuanya milik allah
Parakanpanjang, 18 november 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar