Senin, 25 Desember 2017

Dihargai dan Menghargai

Sangat lelah rasanya . Aku menggelarkan sajadah toska ku di shaf ke-3 , duduk menunduk. Adzan magrib berkumandang sekitar 5 menit yang lalu ,semuanya dalam penantian . Menanti iqomah yang mungkin 5 menit lagi. Posisi mereka rapih .

"Nan , cepetan jadi imam..!" suruh mailan. "bagian idah" jawabnya. Matanya mencari sosok aku. Aku tetap diam.

Iqomah di ghomidi sudah terdengar, itu artinya shalat harus segera dimulai.
"kak Didah, imam.." perintah Rahmah. Siaplahhhh.... "di jadwal, ustadzahnya siapa?" tanyaku, takut nanti aku sudah didepan, ustadzah yang di jadwal dateng, kasian, apalagi kalau apa yang akan ia bacakan sudah di dipersiapkan.

"ustadzah lina kak, gak ada" jawab seseorang yang ku tanya tadi. Akupun langsung mengambil sajadah dan berdiri menuju tempat imam. Tiba-tiba ustadzah dea masuk dari pintu dan melakukan hal yang sama, menuju tempat imam. Aku yang sedang berada di tengah perjalanan dengan spontan mengerem diriku. 'menghargai dan menghormati' tekadku.

Agak kecewa, akhir-akhir ini memang aku jarang menjadi imam, selain karena ustadzah yang separtner dengan ku sering hadir, akupun lebih sering memberikan amanah tersebut pada ustadzah 2 yang sering nyerobot kaya ustadzah dhea. Sebenarnya ada hak jika aku bilang pada para penyerobot baik ustadzah atau santriwati lainnya. "ustadzah, sekarang bagian jadwal saya," jika aku mau. Tapi dalam hal ini bukan tentang mau-gak mau, melainkan bagaimana seorang aku harus bisa dan mampu menghargai orang lain. Terutama yang lebih tua dariku. Agar prinsip timbal balik bisa benar-benar aku rasakan.

Apabila engkau menghargai, maka engkau akan dihargai.

"eh ada didah ya." kata ustadzah dhea yang menyadari keberadaanku. "sok gapapa ustadzah, antum aja." Aku mencoba menghormatinya. Tapi beliau malah berlalu. Yas udahlah, berarti aku harus maju. Akupun bangkit kembali menuju tempat itu, tanpa ku sadari dinan mengambil sajadahnya dan menuju tempat yang sama ku tuju. Dia lebih cepat sampai. Aku benar2 merasa kesal, ku banting sajadah milikku sebi saku, otomatis para calon musholli samping melirikku, mereka mengerti maksud marahku, mungkin. Karena sedari tadi mereka mengetahui apa yang terjadi denganku saat aku bolak balik.

"inikah..?" inikah balasan bagiku?  Ah rasanya ingin aku menangis, tidak adakah sedikit penghargaan darinya untuk seorang aku? Bukan kah aku seorang pemimpin?
"allohuakbar" Aku mengikuti takbiratul ihrom sang imam. Tapi rasa kesal itu membuat shalatku tak karuan, aku membatalkan shalatku . Istighfar ping...... "Allohuakbar.." takbirku kembali.

Aku selalu belajar untuk menghargai orang lain, aku selalu berusaha untuk itu. Tapi rasanya aku tak pernah di hargai, terlalu nista jika aku meminta mereka untuk menghargaiku, mungkin ada yang maksud yang salah saat aku berusaha menghargai orang lain,ada niat yang salah saat aku melakukan itu.
Husnudzonnya seperti itu 

Aku hanya kecewa saja, rupanya kalian tak memahami yang roisah kalian ajarkan, kalian belum mengamalkan.


26 November 2017
Baru di lanjut ngetik.. 🤗

Tidak ada komentar:

Posting Komentar