Senin, 25 Desember 2017

The beloved Winner

Allah memang tak pernah salah ketika memberikan yang terbaik bagi hambaNYA. Yang tua ataupun yang muda ... Yang miskin ataupun yang kaya .. Semuanya sama , mendapatkan yang tetbaik dariNya. Entah berupa rizki ... Hidayah... Atau bahkan jodoh srkalipun

"Hey .. Bangun ... Udah adzan" satu suara membangunkan kami. Suara yang tak dirindukan kehadirannya. Aku memaksa diriku untuk bangun dari baringanku . 'ahh.. Rasanya sangat lelah' gerutuku. Setelah si pembangun pergi ku letakkan kembali tubuhku di atas bantal milik..... Entahlah.

"Kak .. Bangun kak ! Udah siang.." aku membuka mataku dengan spontan "astagfirullaha'adzim, belum shalat shubuh." aku bergegas mengambil air wudlu dan melaksanakan shalat shubuh. " jadi gak lomba tuh?" tanyaku. " gatau dah.. Belum ada keputusan." tak lama setelah percakapan singkat itu .. Aku dan mereka yang bernyawa di kamarku kembali ke dunia mimpi kami masing-masing.

" yang ikut aksioma kumpulan...!" teriak seorang ustadzah dari luar kamar. Lomba ? Jadi ? Aku bergegas keluar kamar , menuju sumbet suara. " sekarang kalian siap-siap. Nanti jam tujuh kita berangkat." . aku segera menuju kamar mandi , tiga hari di tempat yang tak dikenal dibawah naungan acara ekstreme bernama mukhoyyam memaksaku untuk berpantas diri untuk membersihkannya sehingga mau tak mau dihari ke 4 itu aku harus melakukannya jika tak ingin kotornya badanku bertambah karena keringat yang di prediksikan akan banyak bercucur pada hari itu.

Sepertinya aku tak terlalu bersemangat untuk mengikuti lomba. lomba tenis meja. Aku terpilih bukan karena aku seorang atlet , bukan karena aku mahir melakukannya bukan pula karena aku berpengalaman lomba tingkat nasional , bukan. Mungkin allah menakdirkanku untuk tau bahwa aku terpilih  karena hanya akulah yang agak bisa se-MA Nurul Iman putri. Ya ... Agak bisa.

Berbeda dengan mereka-mereka yang bersemangat untuk mengharumkan sekolah , apalagi yang telah bertahun-tahun hidup dididik disini. Akupun bukan tak mau , hanya sadar akan kemampuan saja. Meskipun sudah dilatih selama 2 minggu kemarin , itupun hanya dalam rangka mengingat kembali saja setelah 2 taun disini tak melakukannya. Tak lebih.

Upacara pembukaan digelar. Duta-duta sekolah negri dan swasta berkumpul disana . semuanya sama : berkeinginan untuk menjadi yang terbaik. Tapi apalah daya  se-seri apapun pertandingan tetap yang menjadi juara satu ya hanya satu..

Setelah upacara , kami para itusan MA nurul iman dikumpulkan terlebih dahulu . ustadz zulfa selaku pembimbing memberikan wejangan dan pesan singkat sekaligus memimpin do'a . "lakukanlah yang terbaik.." tarik nafas panjang terdengar olehku, entah siapa saja yang melakukannya. Mungkin aku pun tak perlu tau.

Aku segera pergi menuju ruang tanding bersama kawan mainku , irsyad dan didil dibimbing oleh ustadz imad . Disana telah hadir peserta-peserta lain . " jago sekali mainnya. " kreteg hatiku saat pemain asal cipasung latihan . sangat perfect. Dan aku ? Ahhh rasanya lebih baik aku mundur . aku pun benar-benar pergi meninggalkan ruangan itu menuju kantin.

" dah.. Maen !" irsyad berteriak sambil melambaikan tangannya ke arahku. Maen ? Katanya masih lama.. Euh gerutuku. Aku segera berlari dan membuang makanan yang ada di tanganku. Tiba-tiba kulihat dia di lorong antara kelas-kelas mengenakan seragam putih-abu. Ikutan ? Aku tersenyum . "ikut kaligrafi mungkin" sangkaku setelah melihat penggaris di tangannya.

"Semangat didah.. !" kata ikhwan yang ada di sana. Ikhwan disini , ikhwan yang sesekolah denganku yang hadir di tempat lomba , maksudnya. Rada deg-degan juga . padahal lawan tak terlalu sulit. Maklum masih babak penyisihan. Hingga akhirnya aku lolos.

"Euh.. Hebat kak didah , barokah tahajud." sapa syahid di pintu , anak pimpinan ponpes Nurul iman. "Lawan na ganas finalmah." kataku. "Insya allah lah nu sok tahajudmah." tahajud ? Aduh... Harusnya memang begitu , tapi untuk pagi itu boro-boro tahajud , shubuh juga kesiangan. Karena tak mampu menjawab apa-apa akupun hanya tersenyum dan melangkahkan diriku menuju tempat pertandingan badminton. Tentunya setelah aku mendengar jelas bahwa " babak selanjutnya akan dilaksanakan ba'da dzuhur." PJ tenis meja selaku wasit mengabari kami.

"Duh .. Juara eung. " kak epul menoleh ke arahku.  " belom ge belom." kataku sambil berlalu ke mushola karena waktu dzuhur sudah dekat. Kudapati Anifa teman sealmamaterku masih bergelut dgn pensil , spidol dan objek kaligrafinya. 'Tapi kemana ikhwannya ya?' tanyaku dalam hati sambil mencari ke tiap sudut mesjid. ' oh dia udah di mesjid' . akupun memutuskan untuk berwudlu dan memasuki masjid. Karena adzan sudah betkumandang sejak tadi para musholi pun shalat dengan munfarid , termasuk ia ; sang kaligrafer .aku memposisikan diriku tepat di belakangnya , tanpa niat yang tidak-tidak. Hanya kebetulan saja itu adalah tempat kosong yang tersisa. Tak lebih.

" bantulah aku ya rabb.." akupun shalat , munfarid . ' bisakah aku khusyu dalam keadaan seperti ini?' tepat ketika aku bangun dari sujudku ia sang kalirafer salam terakhir. ' jangan sampai aku meliriknya...' sejak tadi hatiku demo , tapi apalah daya aku gagal menegakkan prinsipku. Dan trek.. 'Maafkan hambamu ya Rabb' kulanjutkan shalatku. Dia yang sudah menyelesaaikan dzuhurnya masih dalam keadaan diam dalam duduknya hingga akhirnya ia bangun . 'mungkin akan melanjutkan kompetisinya' kiraku.. Tapi... "Allohuakbar.."

Ia shalat rawatib .. 'Ah.. Dirimu , selalu selalu saja membuatku malu' . dalam keadaan seperti ini , ketika kompetisi betlangsung ia masih menyempatkan waktu untuk shalat sunnah , kompetisi berwaktu pula. Aku tau kaligrafi yang ia bikin belum selesai . ketika orang lain masih sibuk dengan alat-alat kaligrafinya untuk menjadi yang terbaik , ia pergi lebih awal meninggalkan semuanya untuk menghadapNYa , ketika yang lain cepat-cepat kembali pada sibuknya serelah salam dari shalatnya ia tetap dalam duduknya dan berdiri untuk menegakkan sunnahnya.

"Ya allah.. Aku meminta yang terbaik.." doaku. Akumalu.. Aku lolos ke babak selanjutnya , tidak lain hanya karenaNYA. Dan aku tak mampu lagi meminta apapun. Aku malu , inginku menjadi yang terbaik , tapi shalat sunnah rawatibpun masih enggan , apalagi dalam keadaan seperti ini . ingin ku masuk final , tapi shalat tahajufpun ku tinggalkan , bahkan shubuhku kesiangan . "tak pantas jika doa-doaku KAU kabulkan , ya Rabb." hingga akhirnya akupun pasrah. Apapun yang terjadi aku siap menerimanya.

Karena aku sadar , bahwa pemenang sesungguhnya bukan dia yang jago smash .. Bukan dia yang tinggi nilainya bukan dia yang selalu lolos dalam pertandingan .. Bukan. Tapi dia yang tersibukkan dunianya tanpa melupakanNYA dan selalu mengutamakanNYA , dimanapun , kapanpun dalam keadaan bagaimanapun.
"Thanks friend , I get a inspiration from you."

Parakanpanjang , 22 januari 2017
(Acuy n didan 's birthday)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar